SENDAWA TAK BERMAKNA

Posted: April 26, 2011 in Tidak terkategori

Sore ini benar-benar kelabu, kelelahan telah merasuk dengan sempurna di dalam tubuhku, meski sebenarnya tak banyak yang aku lakukan seharian ini. Kegiatan mingguan yang aku lakukan hanya menemui pengajar untuk mengkonsultasikan tugas akhirku. Setelahnya hanya bermain bersama teman-teman dan berdiskusi beberapa hal. Sudah lama kami tidak berkumpul bersama seperti ini. Maklum, sebagian telah menyelesaikan belajarnya di perguruan alam semesta, fakultas pencarian kehidupan. Mereka bercerita tentang pengalaman baru di dunia barunya masing-masing. Sedangkan aku hanya seorang mahasiswa yang terlalu lama berkutat untuk menyelesaikan tugas akhirku.

Tubuh yang mulai lemas ini aku bawa untuk pulang mungkin dengan sedkit istirahat dan mandi akan mengembalikan kesegranku kembali. Tak lama aku telah sampai di kamar rumah pohonku yang kecil namun cukup nyaman bagiku.

Tak beberapa lama aku telah berhasil memejamkan mataku, sekarang harus di paksa terbuka kembali karena terkaget oleh bunyi yang berasal dari jendela yang terbuka. Sayup-sayup aku dengar suara memenggilku dari luar.

“eh, kamu ngagetin aja ci.” Betapa kagetnya aku ketika si kelinci adik angkatanku itu tiba-tiba sudah berada di depanku. “Ayo masuk,” kupersilakan dia masuk dan kubuatkan secangkir kopi. Dia tampak heran dan kaget dengan apa yang telah aku lakukan, ini memang tak biasa aku lakukan pada teman-temanku apa lagi adik angkatan seperti dia.

“terima kasih kak” dia masih belum percaya sampai dia pegang sendiri gelasnya.

“ya sama-sama. Ada perlu apa kamu kelihatanya begitu penting hingga datang kemari” cukup basa-basinya aku langsug ke pokok persoalan.

“bagaimana ya kak, aku sendiri bingung memulai dari mana” tampak wajahnya yang serius

“ ya pelan-pelan saja. Ceritanya aku mulai membukanya.

“sepertinya perkumpulan murid masih membutuhkan kakak untuk membantu” kelinci begitu hati-hati membicarakanya. Tak biasanya dia begitu hati-hati membicarakan tentang organisasi dengan ku.

“aku tidak bisa ci, Aku sudah lelah dengan segala perkumpulan murid.” Aku langsung melontarkan kritik pertamaku.

“kakak jenuh ?” kelinci mulai mengerti.

“apa yang aku lakukan selama ini telah habis. Yah ci, sebenarnya aku sudah lama muak dengan apa yang ada di perguruan ini. Tapi aku menyimpan keinginan yang untuk merubahnya tapi, ya begitualah aku bekerjasendiri tanpa ada teman yang bantu.”

“bentar kak aku semakin bingung dengan apa yang kakak katakan.” Kelinci mengerutkan dahinya tak mengerti apa yang aku bicarakan.

“ya sekarang perkumpulan murid kita tak jelas mau bergerak kemana. Seperti kapal yang di ombang-ambingkan ke sana-kemari. Begitu getol memprotes kebijakan para raja, mengawasi dengan mata tajam ketika terdapat kecurangan. Tapi pernahkah kita berkaca pada perkumpuln murid kita?” kelinci semakin bingung dengan perkataanku. “kamu perhatikan kecurangan-kecurangan yang sudah di lakukan oleh para murid. Apakah mereka pernah memprotes terhadap dirinnya sendiri?”

“oh aku mengerti kak.”

Tiba-tiba seseorang berdiri di depan kamarku yang tak tertutup. Tanpa berbasa-basi dia langsung masuk. Ternyata dialah kancil.

Tanpa basa-basi dia pun langsung mengambil air minum. Dia tak memperdulikan ada kelinci dan aku di dalam kamar.

“oh ada kamu to ci, piye kabarnya tu perkumpulan murid kita?”

“ya begitu kak, sudah tidak seperti dulu lagi. Waktu ada kakak-kakak di dalamnya.

“la memang apa masalahnya?” kancil bertanya dengan nadanya yang ringan.

“ya sekarang terlalu fokus pada dirinya sendiri kak.” kelinci menjawab ringan pula.

“oh, biasa itu. Kami juga sudah memprediksi sebelumnya. Lebih jauh lagi sakarang lebih mudah di kendalikan dari pihak luar kan? Oh ya kalian tadi membicarakan soal apa?”

“sekarang transfer nilai semakin tidak jelas. Mahasiswa sudah semakin pandai  untuk melakukan kecurangan”

“kecurangan seperti apa?”

“itu bukan rahasia umum, liat beberapa kegiatan. murid itu melakukan beberapa mark up.  Dana yang si ‘sisakan’” dengan mangangkat ke dua jari telunjuk dan jari manis baik kiri maupun kanan. itu masuk kemana juga tidak jelas,ada rumor itu untuk makan-makan panitia, ada juga isu yang berkembang bahwa itu untuk kegitan penutupan sebuah Unit dalam perkumpulan mahasiswa lagi.”

“tunggu-tunggu kenapa kamu bisa bilang itu kecurangan pada batasan mana kamu bilang begitu? Liat dari mananya? Bukankah dana yang di berikan hanya sedikit dan sisanya kita cari sendiri. Dana yang sisa yang kita kembalikan pun belum tentu ujungnya. Bisa aja masuk ke khas jurusan kita.” kancil menjawab.

“itu soal lain. Dan belum tentu kebenaranya. Apakah pernah di chek kebenaranya?” aku menyanggah.

“okay sekarang gini bukankah kamu pernah membuat proposal yang kamu buat membengkak?”kancil mencoba menyudutkan.

“ya tapi itu berbeda. Jika proposal itu pengajuan dan perencanaan. Kita tidak tau apa yang terjadi di kemudian hari. Dan bagaimana dana-dana tak terduga bisa muncul.”

“Bukankah itu sebuah kecurangan?” kancil kembali menyudutkan.

“Bukan itu. Jika saya boleh mengistilahkan adalah dana antisipasi. Jujur tidaknya atau curang tidaknya bakal terlihat di laporan pertanggung jawaban.”

“ya sekarang juga begitu kak. Kabarnya pemimpin, seseorang atau sekelompok orang perkumpulan murid kita pernah, bahkan sering melakukan kecurangan. Soalnya saya pernah di minta untuk menulis sebuah nota kosong.” Aku terbengong-bengong mendengar pernyataan kelinci.

“apa? Jika memang begitu bertambah bobroklah perkumpulan murid kita. Seorang pemimpin seharusnya menjadi contoh dan menjadi teladan. Wah memang sekarang krisis kepemimpinan terjadi lagi. Trus bagaimana kelangsungan bangsa ini jika murid perguruan sebagai penerus berlatih untuk berbuat curang? trus kamu mau?” kelinci menggeleng kapala aku menggeleng kepala.

“saya dengan tegas menolaknya. Bahkan dia dengan tanpa merasa bersalah menasehati saya bahwa prinsip saya terlalu kaku. Dan terlau sempit jika mempunyai prinsip seperti itu. Saya tidak mengindahkan kata-katanya karena buat saya itu tidak penting.” kelinci menjelaskan dengan menggebu.“ya bahkan lebih parah dia melindungi orang yang mengalami kecurangan. Pernah sebuah kegiatan yang di fonis curang bahkan kini di kaji ulang”

“Pertanyaanya bagaimana dengan yang mengalami kecurangan? Sekali lagi jika begitu jangan salahkan orang jika melakukan kecurangan. Tapi itu pun tidak benar jika membiarkan semua melakukan kecurangan mau jadi apa kampus kita ini?”

“jika itu saya tau, itu kan tidak semua yang bersalah. Para pimpinannya yang tak tau apa-apa terkena masalah itu jadi terkena fonis” kancil menjelaskan.

“bagaimana seorang pemimpin tidak tau. Bukankah itu tidak logis? Tampaknya itu adek-adekmu bukan?” aku memojokan.

“ya memangnya dulu kamu waktu jadi pemimpin tau semua hal? Bukankah itu hanya masalah-masalah strategis saja yang dia tau.”

“ya setidaknya mencari tau. Aku pun begitu. Tapi tentunya tanpa interfensi. ya silahkan saja bersiap mengalami degradasi nilai. Apalagi sekarang, sebagai wadah untuk aplikasi dari pengetahuan dan mendapatkan pengalaman praktis menjadi kecil. ” aku menyela.

“siapa bilang, ingat unit yang aku pimpin? Bukankah sudah ada transfer of knowldage dari praktisi ke murid?”kelinci menjawab.

“dalam bentuk apa, seminar? Pertanyaan kritisnya cukupkah itu memberikan pengalaman mahasiswa?”

“bukankah lembaga pendidikan merupakan wadah untuk transfer of knowledge? Mau seperti apa lagi?

“saya sedikit setuju dengan apa yang di paparkan kak kancil. Karena saya menjadi berfikir terbuka” kelinci mengintrupsi

“okay, aku tak pernah bilang jika seminarnya itu buruk. tapi begini, lihat di luar sana masih banyak  yang bisa di kerjakan, jika hanya sekedar seminar. Sedangkan menurut pendapat pribadiku seminar tak banyak menjawab pertanyaan yang muncul di masyarakat. Apalagi bagi murid hanya terpatok pada gedung dan ruang yang sempit. Coba lebih di arahkan untuk mengabdi pada masyrakat. Membawa mahasiswa untuk tau masalah-masalah riil di masyarakat dan menerapkan ilmu yang di dapat untuk membantu mereka.”

“betul kak. Tapi sebelum ke sana juga perlu bekal bukan. Ya mungkin di dalam seminar kita akan tau tentang sebuah aplikasi ilmu dari para ahli. ” kelinci memotong

“ya apakah pengetahuan yang di dapat tidak cukup untuk di aplikasikan ke dunia nyata?”

“ya saya pikir belum terlalu mampu untuk dibebani seberat itu” kancil menyela.

“mengapa engkau mennganggap rendah para murid? Lihat itu IPK yang diatas tiga. Bukankah itu sebuah indikator”

“wah belum tentu IPK itu mencerminkan kemampuan mahasiswa. Jika gambaran penguasaan materi dari segi teori mugkin mampu. Tapi jika praktis? Siapa yang tau?a spek yang lain bagaimana?”

“jika memang bigitu mengapa tak mengajak guru untuk bekerja sama? Jadikan mereka sebagai penasehat dan pengarah. Bukankah kita juga bisa menjawab masalah tentang  antara jurusan dan perkumpulan murid?”aku menjawab

“ya tapi tetap saja itu perlu fikiran yang matang dan kajian yang mendalam”kancil skeptis

“Jika tidak di coba kepan akan tau?” aku  menyela.

“ya itukan fikiranmu tho can. Tak semua mampu melakukannya.”kancil menyanggah.

“lah ya silakan di coba baru kita tau kemampuan mereka.”aku menyanggah.

“ya sudah silakan coba, aku mau coba makan dulu”kancil mencoba menghentikan pembicaraan.

Ya itulah sekelumit permasalahan yang aku hadapi dalam aku menuntut ilmu. Prinsip keteguhan dan keberanian entah kemana itu semua. Apalagi sekarang cenderung melupakan yang esensial. Ya semoga saja perkumpulan para murid tak menjadi lembaga yang hedonis.

Ferrynela Purbo

Komentar
  1. andreastulus mengatakan:

    lanjutkan karyamu mas ferry

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s