Judul: Dead Poets Society

Sutradara: Peter Weir

Pemain: Robin Williams, Robert Sean Leonard, Ethan Hawke, Josh Charles, Gale Hansen, Dylan Kussman, Allelon Ruggiero, James Waterston, Norman Lloyd, Alexandra Powers

Durasi: 128 Menit.

Rilis: 2 Juni 1989, Amerika Serikat.
____________________________________________________________________________________

Dead Poets Society (Kumpulan Penyair Mati). Ini film lama. Tahun 1989. Namun film ini terasa masih relevan bila dikaitkan makna pendidikan Indonesia khususnya, dewasa ini. Yang belum berhasil menuntaskan pelbagai krisis multi-dimensi.

Film ini telah dinovelkan N.H Kleinbaum. Berkisah tentang seorang guru, yang “tidak wajar”, pemikiran maupun cara mengajar. Guru yang mengajak siswa memahami bahwa pendidikan adalah pembelajaran berpikir untuk diri sendiri.

Guru itu John Keating (diperankan Robin Williams). Ia memperbolehkan siswa-siswa sekolah swasta Akademi Welton memanggilnya “O, Kapten! Kaptenku!” —yang dicuplik dari sajak Walt Whitman mengenai Abraham Lincoln.

Keating guru baru. Ia dulu lulusan Welton, yang suka diplesetkan jadi “Hell-ton”. Welton sekolah yang tidak memiliki siswi perempuan. Para orangtua bangga menyekolahkan anaknya di Welton —sekolah yang konservatif dan aristokratik—. 75% lulusannya tembus Perguruan Tinggi Ivy.

Adalah Neil Perry (Robert Sean Leonard), Todd Anderson (Ethan Hawke), Knox Overstreet (Josh Charles), Charlie Dalton (Gale Hansen), Richard Cameron (Dylan Kussman), Steven Meeks (Allelon Ruggiero) dan Gerard Pitts (James Waterston) “terpesona” dengan Keating. Pertemuan kelas pertamanya tidak di dalam kelas. Ia menggiring para siswa ke Ruang Kehormatan Welton. Di sana, Pitts disuruh membaca stanza pertama puisi inspiratif: tentang kehidupan. Berjudul “Pada Perawan yang Punya Banyak Waktu.”

Berkumpulah wahai kuntum bunga selagi bisa
Masa lalu masih ada:
Dan bunga ini yang tersenyum hari ini
Besok akan mati

Baris pertama dari puisi itu diistilahkan: Carpe Diem. Bahasa Latin, yang berarti “raihlah kesempatan”. “Seize the day,” kata Keating. Maknanya, Keating ingin anak didiknya mempunyai hari yang luar biasa. Karena manusia hanya hidup sekali di dunia. Kelak bakal jadi makanan cacing. Mati.

Keating bertindak aneh, sangat aneh. Di kelas, bahkan ia menyuruh para siswa untuk merobek buku teks puisi bagian halaman pengantar! Gara-gara dianggapnya “omong kosong”. Glek! Lucu juga ya, bila kita berimajinasi akan adanya dosen di fakultas ekonomi di Indonesia yang menyuruh mahasiswa merobek halaman buku ekonomi bagian neo-klasik.

Pada suatu pertemuan, Keating mengajar dengan gaya nyentrik. Ia berdiri di atas meja. Ya, meja, seorang guru berdiri di atas meja! Tentu ini diluar kebiasaan kolektif —meminjam apa kata W.S Rendra pada esai “Melawan Mesin” (1968).

Saya rasa, film yang naskahnya ditulis Tom Schulman ini, mengajak penonton untuk bisa berpikir (bahkan bertindak) di luar batas kebiasaan, kelaziman. Out of the box. Sebuah contoh sederhana, naik ke atas meja. Yang dilakukan seorang pendidik: tak menutup kemungkinan akan mengundang kontroversi. Apalagi di Indonesia. Dicap melanggar kesopanan atau etika.

Namun, suatu tindakan mengandung alasan, argumen. Alasan ini yang perlu dipertanggungjawabkan, didiskusikan dan dipertanyakan, yang jadi rahim sebab lahirnya akibat.

Imajinasikan saja, iseng, seorang dosen naik ke atas meja. Pasti akan tidak lazim. Namun, masing-masing manusia punya kepribadian berbeda. Kepribadian berbeda dengan kebiasaan kolektif.

Keating bertindak, dengan alasan. Keating tidak hanya cukup mempetanggungjawabkan perbuatannya menurut kebiasaan kolektif. Tapi ukuran dan tanggungjawab pribadi.

“Kenapa aku naik ke meja ini?” tanya Keating kepada para siswa.

“Agar merasa lebih tinggi,” celetuk Charlie, salah seorang siswanya.

Tidak, jawab guru eksentrik itu. Keating naik meja untuk mengingatkan dirinya sendiri, untuk terus menerus melihat keadaan dengan cara berbeda.

“Dunia tampak berbeda dari atas sini,” ucap Keating, setelah berputar sebentar di atas mejanya, “Tidak percaya?” Ia lantas mengajak siswa-siswanya untuk bergiliran naik ke atas meja guru. Agar bisa berpikir berbeda, juga bebas. Alamak, sedap nian!

“Jika kalian tahu sesuatu lihatlah dengan cara lain. Meski itu tampak konyol atau salah, kalian harus mencoba. Jangan hanya mempertimbangkan apa yang dipikir penulisnya. Pertimbangkan apa yang kalian pikir. Berjuang untuk menemukan diri kalian sendiri. Semakin lama kalian menunggu, semakin kecil kemungkinannya kalian akan menemukan,” ujar Keating.

Keating membawa suasana berbeda di kelas. Belajar jadi menyenangkan. Riang. Tawa berderai-derai keluar dari mulut murid ketika guru yang ketika sekolah menyukai “paha wanita” itu, membacakan cerita.

Guru itu punya daya pikat tersendiri bagi para siswa. Neil menemukan buku kenangan saat Keating sekolah. Dan membaca catatan, dulu Keating ikut Dead Poets Society (DPS). Apa itu?

DPS adalah perkumpulan yang dibuat untuk “menghisap sumsum kehidupan”. Kegiatannya membaca puisi di gua di tengah hutan. Neil terinspirasi untuk menghidupkan kembali perkumpulan itu.

Aku masuk ke hutan untuk hidup dengan sengaja
Untuk menghisap semua sumsum kehidupan
Untuk mengusir semua yang tidak hidup
Dan jika tidak, jika mati aku tahu bahwa aku tak pernah hidup

Neil mengajak teman-temannya. Awalnya ada yang menolak. Namun Neil berhasil. Sekelompok siswa berumur tujuh belasan, malam-malam menyusuri hutan pergi ke gua. Tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Mereka ingin menghisap sumsum kehidupan.

Dengan puisi, mereka mengekspresikan diri sendiri. Bahkan Knox Overstreet, sempat “nekat” datang ke sekolah perempuan pujaannya bernama Chris —hingga membacakan puisi di depan kelas. Ia ingin mengisap sumsum Chris, yang dijatuhcintai Knox. Meski Chris sudah punya cowok.

Tragis

Neil menemukan apa yang ingin dilakukannya. Sebuah keinginan, hasrat. Neil ingin jadi pemain drama. Berakting. Ia ikut audisi pementasan A Midsummer Night’s Dream, karya William Shakespeare.

Sayang, harapan pribadi belum tentu diterima semua orang. Ada kontradiksi. Ayahnya tak mengizinkan. Ayah ingin Neil keluar dari drama itu, sesegera mungkin. Tapi Neil tidak peduli. Karena inilah saat ia menemukan “dirinya sendiri”. Ia jadi manusia bebas: menentukan jalannya sendiri. Cukup eksistensialis.

“Untuk pertama kalinya, aku tahu apa yang harus aku lakukan, dan aku akan melakukannya meski ayahku melarang! Carpe Diem!” ujar Neil, pada Todd.

Neil lolos audisi. Peran “Puck” didapatnya. Senangnya bukan main. Namun, pihak penyelenggara sandiwara butuh surat izin dari ayah Neil dan Nolan, petinggi Welton. Neil nekat. Ia buat surat palsu itu. Daripada tidak dapat izin, barangkali. Carpe diem!

Saat manggung, ia berakting apik. Musnah semua keraguan anggota DPS mengenai akting Neil. Ia mendapat aplaus luar biasa dari penonton. Kecuali, seorang. Ayahnya.

Ayah Neil berdiri kaku di belakang kursi penonton. Matanya menyorot tak senang. Ia menjemput Neil pulang ke rumah. Dan akan menghakiminya.

“Kami bersikeras untuk memahami mengapa kau bersikeras untuk menentang kami. Tapi apa pun alasannya, kami takkan membiarkanmu merusak hidupmu. Besok kau akan keluar dari Welton dan masuk ke Sekolah Militer. Kau akan masuk ke Harvard dan menjadi seorang dokter,” kata ayah Neil.

Sang ayah sangat tak suka Neil ikut drama. Neil tak habis pikir, keputusan ayah yang akan memindahkan sekolahnya. Itu akan berlangsung sepuluh tahun.

Saat ayah ibu Neil terlelap, Neil mengambil sesuatu dari kamar orangtua. “Sesuatu” itu adalah pistol. Keputusan hidup tanpa kesepakatan dengan sang anak itu harus dibayar mahal. Neil menembak dirinya sendiri. Mati.

Welton geger. Pihak sekolah mengusut kasus yang mencoreng nama baik. John Keating dituding biang kerok —guru yang mengajarkan berpikir bebas dan anti keseragaman itu.

Dalam DPS terjadi konflik internal. Cameron mengungkapkan berbagai hal kepada pihak sekolah. Charlie marah. Ia sampai memukul Cameron. Cameron juga memberitahu, pihak sekolah mengkambinghitamkan Keating atas kematian Neil.

“Itu tidak benar!” jerit Todd, teman sekamar Neil. “Pak Keating tidak mendorong kita. Neil memang suka akting.”

Anggota DPS diusut, dan dipaksa menandatangani surat mengenai John Keating. Guru itu dikeluarkan. Charlie juga di-drop out.

Akhir film, adegan dramatis disuguhkan kepada penonton. Saat Keating mengemasi barang-barangnya dari dalam kelas dan akan meninggalkan sekolah: anggota DPS dan siswa lainnya memberi penghormatan terakhir kepada guru yang mengajarkan siswa jadi pemikir bebas itu. Siswa-siswa itu memasang raut wajah, seperti bangga. Juga sedih akan kehilangan. “O, Kapten! Kaptenku!”

Penghormatan itu memperlihatkan cinta anak didik kepada gurunya.

Mereka berdiri di atas meja.

Yodie Hardiyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s