Berkuliah di manapun sama saja. Semua menyangkut kehidupan belajar mahasiswa di perguruan tinggi. Negeri maupun swasta, dalam maupun luar negeri, ya sama saja. Namanya juga kuliah. Apa yang beda? Tapi, tunggu dulu. Baiklah kita menyimak tulisan ini untuk menyimpulkan pada akhirnya.

Sebuah buku yang ditulis Philip Delves Broughton, What They Teach You at Harvard Business School: My Two Years Inside The Cauldron of Capitalism, menceritakan pengalaman seorang jurnalis menempuh program Master of Business Administration (MBA) di Harvard Business School (HBS). Buku ini sangat menarik, khususnya bagi mereka yang menaruh perhatian pada proses pendidikan, khususnya pendidikan bisnis, karena memberi detail pengalaman seorang bekas mahasiswa HBS, start from day one.

Dalam buku ini Broughton menceritakan hari pertama menginjakkan kaki di HBS untuk mengambil bahan-bahan kuliah. Ia telah harus membaca sebuah deskripsi kasus, mencoba memahami, menjawab pertanyaan-pertanyaan yang diajukan, berjumpa beberapa mahasiswa lain yang telah diatur sebagai teman sekelompok, membicarakan bersama kasus tersebut, apa artinya dan apa jawaban bersama mereka atas inti pertanyaan yang diajukan.

Sejak hari pertama, sang jurnalis yang diajak berpikir menjadi business man atau executive di perusahaan ternama (asosiasi yang diberikan bagi alumni HBS) sudah harus pulang larut malam untuk hal menyangkut perkuliahan, padahal ia belum benar-benar berkuliah. Terlalu serius? Mungkin! Hal ini bisa jadi relevan dengan pemosisian HBS yang sangat ambisius menyangkut karir atau masa depan para alumninya, di samping Harvard sebagai universitas memang universitas nomor satu sejagad (lihat ranking THES 2008).

Gambaran aktivitas sebagai mahasiswa HBS seperti hari pertama tidak berhenti di situ. Hari-hari berikutnya juga sama, bahkan lebih “parah”. Kalau hari pertama ia datang siang dan pulang malam, maka hari-hari berikutnya ia datang pagi dan pulang sama malamnya atau lebih larut. Ia yang datang dari “dunia lain” yakni dunia jurnalis dipaksa untuk menyesuaikan diri dunia barunya, bisnis. Tentu itu sesuatu yang terrible, apalagi cara pandang antara kedua dunia itu tidak sama dan ambisi HBS yang menggunung tadi tidak selalu mudah diterima seseorang yang datang dari dunia bukan bisnis.

Namun, itulah sistemnya, itulah habitat barunya. Jika ingin survive, jalanilah! Mau tidak mau ia membiasakan atau barangkali tepatnya memaksa dirinya untuk bisa berpikir dengan mindset baru; tadinya tidak akrab dengan berbagai tools analisis bisnis, kini apa boleh buat harus belajar; ia juga mulai memahami ambisi ekonomi/finansial dari para mahasiswa HBS, bahkan eksplisit “diajarkan” oleh sejumlah dosennya. Pagi, siang, malam, hampir seluruh waktunya didedikasikan untuk belajar.

Ini cerita menyangkut perkuliahan di HBS. Tentu tidak semua sekolah bisnis atau program studi lainnya di Amerika Serikat, di negara-negara barat atau negara-negara maju, sama seperti gambaran itu. Namun, barangkali ada pula yang mirip. Yang jelas, gambaran kuliah seperti itu jauh berbeda dari apa yang lazimnya di Indonesia, di Universitas Kristen Satya Wacana dan khususnya di Fakultas Ekonomi.

Apakah itu karena kultur yang membedakan? Mungkin iya, tetapi rasanya kita perlu berhati-hati mencari pembenaran secara kultural untuk sesuatu tentang keseriusan belajar dalam lingkungan belajar yang menuntut. Jika kultur membedakan, maka ke manapun, orang Indonesia akan sulit belajar dengan pola seperti di atas.

Namun, menurut cerita Broughton, ada seorang temannya yang berasal dari Indonesia dalam program itu. Ada banyak mahasiswa Indonesia yang pernah, sedang, dan akan terus berkuliah dalam sistem yang seperti itu dan tidak sedikit yang dapat mengatasinya dengan baik. Jadi, betul lain lubuk lain ikannya, tetapi ketika berada di Roma kitapun bisa belajar menyerupai orang Roma, walau tidak selalu harus menjadi orang Roma.

Tulisan ini akan membeberkan pengalaman pribadi penulis berkuliah dalam sistem kuliah seperti itu. Jadi, ini adalah sebuah life history, walaupun akan disisipkan pandangan-pandangan lain. Sebagai pengalaman pribadi, saya menikmati apa yang sudah saya jalani dan memandangnya sebagai hal yang sangat baik. Karena telah menjalaninya dan mampu keluar darinya, maka kesimpulan saya cuma sederhana, Anda juga bisa!

Pengalaman Studi di Groningen

Delapan tahun yang lalu saya mengecap pengalaman pertama studi di luar negeri. Tahun 1994 sebetulnya saya pernah pula berkesempatan “melongok” kampus tetangga, Assumption University, Bangkok, tetapi karena hanya untuk mengikuti sebuah seminar mahasiswa, saya jelas tidak bisa merasakan manis-pahitnya berkuliah. Pada tahun 2000, saya diterima untuk melanjutkan studi di program master di bidang bisnis internasional di University of Groningen, Belanda.

Program ini adalah sebuah program internasional sehingga mahasiswanya berasal dari berbagai Negara. Indonesia adalah salah satu “kontingen” terbesar, di samping China dan tuan rumah. Semua membawa kulturnya masing-masing, termasuk kultur belajar. Saya kebetulan menempuh program itu setelah lima tahun mengajar, sehingga budaya belajar gaya mahasiswa Indonesia lazimnya telah mulai beralih bentuk ke arah kebiasaan membaca karena tuntutan profesi dosen. Namun, saya kira, sebagai mahasiswa bentukan sistem pendidikan di Indonesia yang berpusat pada dosen, maka gaya itu setidaknya masih terbawa-bawa dalam pengalaman belajar di perantauan.

Secara umum, cerita saya di Groningen jelas tidak persis sama dengan pengalaman yang diceritakan Broughton di HBS, khususnya tentang hari pertama itu. Hari pertama “mendaratkan” kaki di kampus Zernike, University of Groningen, hanyalah untuk sosialisasi di antara partisipan program. Di samping penjelasan dan perkenalan dengan beberapa personil pengelola program, selebihnya kami justru barbeque-an dan bermain saja.

Program induksi atau orientasi yang resmi dimulai keesokan harinya pun tidak separah gambaran di HBS. Sejumlah presentasi seputar program dan isu terkini (di saat itu) di bidang bisnis internasional memang ada. Namun, kebanyakan kami tetap relaks sepanjang program. Program bahkan diakhiri city tour untuk membangun separuh pengenalan kami tentang Groningen, termasuk tentang kampus University of Groningen yang berlokasi di pusat kota. Kami menutup aktivitas sepanjang hari itu dengan makan malam bersama di salah satu restoran, sebuah restoran India. Yang pasti, acara berakhir cukup malam, sekitar jam 9, walau tampak seperti masih magrib karena musim panas (summer).

Hari berikutnya adalah kuliah, kuliah perdana langsung dimulai. Tanpa basa-basi yang kelamaan. Bayangkan di kampus UKSW, kebanyakan mahasiswa masih berharap minggu pertama itu kosong. Apalagi biasanya minggu pertama masih berisi masa adjustment atas hasil registrasi mata kuliah. Pindah kuliah atau kelas masih bisa dilakukan, sehingga bisa dijadikan alasan untuk tidak masuk di minggu pertama. Molor, itulah budaya kita.

Pada semester pertama, kami dialokasikan empat mata kuliah fondasi yang bersifat wajib. Tanpa tedeng aling-aling setiap dosen pun langsung membanjiri kami dengan bahan-bahan kuliah dan tugas, from day one. Pengenalan umum mata kuliah hanya berlangsung sebentar. Selebihnya dosen memberi fondasi materi kuliah sepanjang satu semester dan pengenalan atas konsep-konsep kunci. Dari hari pertama kuliah kami tahu bahwa dua dari empat matakuliah itu menuntut kami mendapat giliran presentasi berdasarkan penugasan masing-masing kelompok, berselang-seling dengan kuliah dosen.

Misalnya mata kuliah Pengantar Bisnis Internasional, menuntut kami selalu membaca buku teks untuk kuliah dosen dan sejumlah artikel pembanding untuk mengerjakan tugas-tugas mata kuliah yang harus dikerjakan dan dikumpulkan secara berkelompok. Setiap dua minggu, kami kumpulkan dua tugas. Minggu berikutnya, kelompok mendapat giliran mempresentasikan apa yang dikerjakannya. Diskusi didorong karena keaktifan di kelas memang menjadi bagian dari penilaian.

Pembahasan dalam sesi-sesi presentasi dan diskusi mahasiswa adalah pendalaman dari perkuliahan dosen. Kuliah dosen biasanya mencakup minimal dua bab sekaligus. Ada yang bisa 3-4 bab dirangkum karena saling terkait. Kami diminta untuk membaca 2-4 bab setiap dua minggu, bergantian dengan membaca sebanyak-banyak artikel dan membuat tugas yang juga setiap dua minggu tadi.

Jadi, artinya setiap minggu = baca, baca, baca, tulis, tulis, tulis, diskusi, diskusi, diskusi. Karena, tugas kelompok menuntut masing-masing anggota menyiapkan diri untuk diskusi kelompok pra pembuatan tugas dan proses menyusun tugas. Ini biasanya terjadi pada minggu sebelum minggu presentasi.

Pada minggu presentasi jelas konsentrasinya adalah menyiapkan diri untuk presentasi atau berdiskusi di kelas. Itu artinya juga membaca kembali seluruh bahan yang relevan agar mampu terlibat secara baik.

Tidak keseluruhan empat mata kuliah itu berpola demikian memang, sehingga membuat kami masih cukup lega. Namun, seluruh mata kuliah itu, tetap punya tugas, baik itu rutin (walau jatuh temponya di minggu yang berbeda-beda). Semuanya memberikan one big final project yang juga harus dikerjakan sejak minggu tertentu karena proporsi penilaian yang cukup tinggi, sehingga tidak ada yang ingin menunggu last minute baru mengerjakan. Tugas itu pada semester pertama (tiga dari empat mata kuliah) mayoritas adalah riset data sekunder berbasis internet. Oleh karena itu, pada minggu tertentu, tugas rutin kami harus ditingkahi dengan proses pengumpulan data untuk final project, juga diskusi kelompok dan sebagainya.

Anda bisa membayangkan apa yang terjadi di dalam hari-hari kami berkuliah dalam setting seperti itu. Mulanya, satu dua teman asal Jakarta masih cukup rajin bolak-balik GroningenAmsterdam, mengunjungi rekan-rekannya yang berkuliah di sana sekaligus menelusuri Amsterdam kota metropolitan, dibanding Groningen yang relatif kecil terpelosok di ujung utara Belanda.

Namun, ketika komplikasi aktivitas menajam secara tiba-tiba karena seluruh mata kuliah menuntut persiapan dan pengerjaan tugas-tugas dan partisipasi yang baik dalam setiap sesi, hilanglah fenomena jalan-jalan. Kata seorang teman saya, tidak terkejar deh kalau mau menghasilkan sesuatu yang baik. Lagipula, teman-teman sekelompok selalu menuntut kontribusi yang signifikan dari setiap anggota. No free rider.

Saya yang memang sejak bermahasiswa sudah terbiasa pulang malam karena aktif di lembaga kemahasiswaan, yang terus berlanjut sejak pertama kali menjadi dosen, jelas tidak punya persoalan dengan tuntutan kerja keras itu sendiri.

Kendala berarti adalah soal kefasihan berbahasa untuk benar-benar memahami seluruh bahan yang dibaca dengan baik dan/atau mengekspresikannya baik tertulis maupun lisan dengan jelas. Itu jelas masalah kebanyakan mahasiswa non-native dalam bahasa Inggris atau bahasa lain ketika studi di negara lain. Dan, itu juga masalah pribadi saya untuk bisa “menang” di semester pertama.

Persoalan lain adalah budaya partisipasi. Waktu kuliah S1 di Indonesia, kebanyakan terbiasa “disuap” oleh dosen. Partisipasi dalam perkuliahan bukan karena tuntutan kuliah bagi mahasiswa, kecuali pengalaman nyata juga menunjukkan bahwa seorang dosen senior di FE selalu saja marah di kelas ketika tidak ada satupun mahasiswa yang mengangkat suara merespon pertanyaannya.

Budaya diam itu emas karena itu tidak terhindarkan, tumbuh subur. Namun, kondisi demikian jelas menjadi masalah jika kuliah di luar negeri karena tidak mungkin menghindari tuntuan kuliah seperti presentasi atau ditanya dosen di kelas, kecuali memang Anda ingin “bunuh diri”.

Bicara tentang tindakan “bunuh diri”, hal ini pernah terjadi pada seorang teman yang karena kendala bahasa lalu memutuskan tidak hadir dalam jatah presentasi kelompoknya. Padahal dia juga telah diberikan tanggung jawab untuk presentasi bergiliran oleh setiap anggota kelompok. Untung, temannya dengan senang hati atau gondok akhirnya mengambil alih. Namun, jelas tindakan sengaja untuk tidak hadir telah menjadi masalah baginya, ia “bunuh diri”.

Kendala budaya dan bahasa memang seringkali menjadi masalah bagi mahasiswa Indonesia ketika kuliah di luar negeri, walaupun itu bukan hal yang tidak dapat diatasi atau tidak semua mahasiswa bermasalah demikian. Seorang teman mahasiswa di gereja di Sydney, Australia yang berasal dari Malaysia juga mengamini bahwa budaya diam itu juga tumbuh di Malaysia, karena model kuliah yang berpusat di dosen. Sedangkan keterbatasan kemampuan bahasa tidak jarang membatasi kualitas dan kuantitas partisipasi.

Adaptasi dan pembiasaan hidup dalam kultur baru jelas menuntut waktu. Pengalaman pribadi saya menunjukkan dibutuhkannya waktu hingga lebih dari setengah semester untuk relatif bisa beradaptasi. Namun semester kuliah kami cukup pendek, sekitar 12 minggu kuliah. Jadi, ada costs yang harus ditanggung untuk masa penyesuaian ini yakni jumlah dan kualitas partisipasi yang relatif rendah. Karena itu saya tidak berharap hasil baik dalam perkuliahan di semester pertama, kecuali pada satu mata kuliah yang saya rasa benar-benar saya kuasai, Managing International Business Organisation, sebuah mata kuliah berbasis studi organisasi dan pemahaman konteks internasional.

Investasi saya dibidang itu tidak sedikit karena telah mengampu mata kuliah Teori Organisasi dan Manajemen Perubahan sewaktu di Salatiga. Di samping itu, isi mata kuliah ini benar-benar saya sukai, sehingga sekalipun ada perspektif baru yang tetap menuntut pembelajaran yang optimum, saya tetap relatif mudah meng-handle.

Itu gambaran pengalaman saya berkuliah di semester pertama. Hanya dengan empat mata kuliah, kami sudah seperti tidak punya waktu untuk melakukan hal-hal lain lagi. Saya biasanya berangkat ke kampus jam 8 pagi dan pulang sekitar jam 10 malam. Rumah tempat tinggal yang cukup jauh dari kampus memaksa saya untuk tetap tinggal di kampus sepanjang hari. Namun, itu baik, karena memungkinkan saya untuk lebih banyak berada di perpustakaan atau laboratorium komputer untuk browsing internet mencari data untuk tugas-tugas akhir kami, di samping untuk tugas dwimingguan yang menuntut akses artikel pada online journals.

Beban sangat berat pada semester pertama membuat tidak ada satupun dari kami yang mau mengambil empat mata kuliah lagi dalam satu term kuliah. Pada semester-semester selanjutnya saya hanya mengambil tiga atau dua mata kuliah pada term dua, tiga dan semester terakhir hanya untuk melakukan penelitian lapangan dan penulisan tesis.

Apa yang menjadi fenomena lain dari kuliah tersebut adalah sulitnya mendapatkan tempat baca di perpustakaan dan laboratorium komputer. Pada minggu biasa saja sering penuh, apalagi menjelang masa tes. Jika mau dapat tempat, harus datang lebih awal. Kalau sudah dapat, tinggalkan tas saat pergi makan siang jangan lama-lama.

Ini menunjukkan bahwa budaya baca, budaya perpustakaan, budaya informasi adalah kenyataan di sana. Jangan tanya di Indonesia, cafetaria mungkin tempat yang paling ramai. Di sana, cafe ramai pada jam 10 pagi di mana orang mengambil break minum kopi atau jam 12 – 1 di mana orang makan siang. Selebihnya cenderung hening.

Pertanyaannya, apakah mahasiswa tidak having fun? Jelas keliru kalau menjawab mahasiswa tidak punya kehidupan pribadi dan sosial di luar kegiatan belajar. Seperti saya katakan, karena beban belajar yang tinggi, mahasiswa cenderung hanya mengambil dua atau tiga mata kuliah, di mana mereka bisa mendedikasikan porsi jam tertentu hanya untuk belajar. Selebihnya, mereka berolahraga, kegiatan seni, aktivitas berorganisasi dan sebagainya. Pada malam tertentu mahasiswa suka berkumpul di pub untuk menenggak bir dan bercengkerama. Mahasiswa internasional memiliki malam khusus untuk social life seperti itu yakni senin malam. Jadi, kehidupan bermahasiswa cukup balanced.

Belajar dari Pengamatan dan Diskusi

Mungkin Anda akan berdalih, “Itu kan studi master, ya pantas saja harus demikian keras.” Namun, jawaban saya, “Anda keliru!” Kok bisa? Ya memang demikian.

Sewaktu di Belanda, pada sejumlah mata kuliah, kami berkuliah bersama mahasiswa reguler Belanda. Mereka mahasiswa pada tahun kedua ber-universitas, artinya setara S1. Memang, di masa itu sistem pendidikan di Belanda unik. Tidak ada S1. Semua mahasiswa yang masuk universitas akan lulus dengan gelar doktorandus, sebuah gelar setara gelar master.

Belanda sudah mulai mengadopsi pendidikan gaya Amerika dan memperkenalkan gelar master, seperti program yang saya ikuti itu. Namun, mahasiswa program reguler waktu itu adalah para calon doktorandus dan pada tahun kedua, mereka sama saja dengan mahasiswa tahun kedua di Indonesia. Mereka juga ditempa dengan cara yang sama seperti yang saya sudah tunjukkan. Jadi, jelas itu bukan hanya untuk mahasiswa S2 belaka.

Pengalaman lain yang cukup menguatkan penyimpulan itu adalah ketika saya menjadi participant observer dalam sejumlah mata kuliah di St. Olaf College, di kota kecil Northfield, negara bagian Minnesota di Amerika Serikat. Saya mengunjungi college itu di tahun 2005 karena keterlibatan saya di Leadership Fellow Program yang diselenggarakan oleh The United Board for Christian Higher Education (UB). Dalam program itu, salah satu konsentrasi pembelajaran saya adalah memahami bagaimana kegiatan belajar mengajar dan aspek terkait dikelola di college tersebut.

St. Olaf College adalah sebuah liberal arts college yang dikelola oleh gereja Lutheran Amerika Serikat. St. Olaf sama seperti college atau universitas sejenis, percaya bahwa pendidikan universitas diarahkan untuk membentuk pribadi yang berpikir logis, kritis, bebas, berprinsip moral etis yang kuat dan itu ditampakkan dalam sikap dan perbuatan.

Singkatnya, pendidikan gaya beginian ingin membentuk seseorang menjadi pribadi yang utuh, jiwa – raga (well-rounded person). Karena itu, dalam kurikulum pendidikan di St. Olaf ada aspek pendidikan fisik, seni, sosial kultural, dimensi pengabdian masyarakat, pembelajaran politik, pembangunan karakteristik ilmuwan, termasuk mampu berkomunikasi ilmiah dengan baik, ilmu pasti alam (science), matematika (quantitative), psikologi dasar, sejarah, multikulturalisme, etika dan teologia. Pokoknya lengkap.

Mata kuliah pembentuk pendidikan yang holistik itu ditempuh khususnya pada dua tahun pertama, walaupun sepanjang berkuliah mahasiswa terus dibentuk dengan pendekatan yang multidimensional, termasuk melalui kegiatan kokurikuler atau ekstrakurikuler. Tahun ketiga dan keempat mahasiswa berkonsentrasi pada pilihan majornya (ada yang mengambil double-major dan ada segelintir yang triple-major).

Di St. Olaf, pengamatan saya juga menunjukkan bahwa sistem kuliah yang demanding tetap sama, walau tentu saja kedalamannya bisa dibedakan dari pendidikan master. Saya meminta izin untuk mengobservasi beberapa mata kuliah, baik di Departemen Ekonomi, Psikologi dan Antropologi. Keseluruhan kelas yang saya hadiri tetap menuntut kesiapan, partisipasi, dan tindak lanjut belajar oleh mahasiswa sebelum, di dalam, dan setelah kelas, walaupun style setiap dosen dan pola belajar mengajar yang dipilih cukup bervariasi.

Misalnya, Departemen Antropologi, yang mana saya mengamati mata kuliah Metode Riset, maka aktivitas riset lapangan menuntut waktu yang tinggi untuk persiapan, pelaksanaan penelitian serta pengolahan data membuat kadang kuliah di kelas digantikan dengan riset literatur mandiri di perpustakaan, riset lapangan, waktu analisis data, serta ekstra konsultasi ke dosen baik secara individu atau berkelompok.

Di kelas pun, kadang karena materinya adalah tentang interview, lalu yang terjadi adalah mahasiswa berlatih mewawancarai orang lain secara berulang-ulang dan mengevaluasi proses interview tersebut. Sedangkan di Departemen Psikologi yang mana saya ikuti mata kuliah Industrial/Organizational Psychology, kuliah diampu seorang Industrial/Organizational specialist di kota Minneapolis yang mondar-mandir ke Northfield selama sejam itu cenderung berisi kegiatan interaktif di kelas, termasuk untuk menguji alat-alat tes psikologi.

Mahasiswa diasumsikan dan dituntut telah menyiapkan diri karena mengenali secara teoretis alat-alat itu. Ketika menguji coba beberapa pendekatan dan alat di kelas, mereka bisa melakukan dan mendikusikannya dengan baik.

Di Departemen Ekonomi, saya aktif mengikuti kuliah Manajemen dan kadang-kadang kuliah Ekonomi Internasional. Ekonomi Internasional diampu seorang dosen cantik asal Eropa Timur yang juga dosen di Universitas Minnesota. Kuliah ini cenderung berpola riset dengan analisis data sekunder sehingga kadang-kadang kuliahnya dikosongkan untuk keperluan pengumpulan dan pengolahan data. Sang dosen hanya memberi sejumlah pemahaman dasar dan selebihnya mahasiswa memresentasikan hasil penelitian mereka dan mendiskusikannya di kelas.

Kata dosen itu, satu semester sebelum saya datang, ada seorang mahasiswa yang mengambil kasus krisis moneter di Indonesia. Di kelas Manajemen, seorang ibu Profesor asal Thailand selalu membimbing mahasiswanya belajar dengan menggunakan video, kertas kerja, ceramah singkat, dan penuh diskusi.

Di luar keaktifan di kelas, tugas-tugas tambahan sering diberikan kepada mahasiswa, dari membaca tambahan, mengumpulkan berita koran yang relevan dan mempresentasikan di kelas, serta tugas-tugas besar seperti riset lapangan. Jadi, kesimpulannya, sami mawon.

Karena inti aktivitas belajar saya di St. Olaf adalah program pengembangan diri yang dikelola secara mandiri, maka saya juga melakukan studi literatur dan mengikuti cukup banyak program di college ini. Saya diberikan satu ruang khusus di perpustakaan dan menjadi “kantor” saya. Setiap hari saya berada di perpustakaan. Karena itu, saya bisa memantau aktivitas mahasiswa di perpustakaan setiap hari. Perpustakaan di St. Olaf pun sama ramainya, walau suasana baca selalu tenang. Di bagian-bagian tertentu cukup sepi, seperti koleksi-koleksi lama. Namun, jelas tidak seramai di Groningen karena bisa dimengerti jumlah mahasiswa St. Olaf cuma 2900-an dibanding Groningen yang saya kira ada belasan ribu.

Amatan partisipatif saya di event-event workshop, seminar, diskusi untuk kalangan dosen maupun melibatkan mahasiswa menunjukkan bahwa dinamika belajar mereka sangat tinggi, luas, dan variatif. Ada kalanya mereka presentasikan dan diskusi pengalaman kegiatan kuliah luar kampus di luar negeri seperti di Afrika, Eropa, dan Asia. Kata ketua Departemen Ekonomi, Prof. Rick Goedde, dia bahkan pernah bersama mahasiswanya berkunjung ke UKSW di tahun 1990-an, sebelum krisis moneter dan politik melanda Indonesia.

Ada juga sharing pengalaman mahasiswa terlibat sebagai volunteer di organisasi-organisasi sosial dan St. Olaf cukup bangga dengan proporsi mahasiswanya yang terlibat sebagai sukarelawan sosial ini di samping off-shore courses dan service learning-nya.

Kegiatan ekstrakurikuler sebagai pelengkap pembentukan pribadi yang utuh juga mendapat perhatian besar. Ada lebih dari 150 organisasi kemahasiswaan di college kecil itu, suatu jumlah yang jauh lebih besar dari jumlah organisasi kemahasiswaan di FE yang jumlah mahasiswanya hampir sama, bahkan di UKSW yang jumlah mahasiswanya jauh lebih banyak.

Saya menyempatkan diri hadir di sejumlah kegiatan kemahasiswaan, bahkan mewawancarai sejumlah aktivisnya dan mereka mampu menyeimbangkan studi dan organisasi dengan baik. Salah seorang pimpinan Senat Mahasiswanya (kira-kira setara itulah di UKSW), bahkan menjadi anggota kumpulan mahasiswa berprestasi akademik tinggi. Kegiatan politik pun tidak tabu di dalam kampus, karena ada sayap organisasi Partai Liberal dan Demokrat di kampus St. Olaf itu.

Saya juga menikmati latihan dan pertandingan olah raga, baik itu atletik, panjat dinding, basket dan tenis di kompleks olahraganya yang megah dan luas. Juga, beberapa konser musik pun saya nikmati dengan baik. Saya juga mencoba mengikuti dinamika dunia kemahasiswaan lewat kehadiran saya di rapat-rapat divisi kemahasiswaan St. Olaf di mana saya seperti dianggap “tamu agung” karena saat itu saya menjabat Pembantu Dekan yang mengurusi masalah kemahasiswaan.

Gambaran itu menunjukkan fenomena lain di luar perkuliahan yang menjadi ciri lembaga pendidikan tinggi beraliran liberal arts. Namun, itu tidak sama sekali mengurangi dimensi keilmuan yang juga menjadi pilar kehidupan college itu.

Kombinasi, dinamika yang tinggi dan berkualitas seperti itu, dalam kegiatan kuliah maupun kegiatan penunjang, jarang saya jumpai dalam kehidupan universitas-universitas di Indonesia. Kalau mahasiswa sibuk kuliah, maka itu karena banyaknya mata kuliah yang diambil, banyaknya kelas yang harus dihadiri dan jelas belum menjadi aktivitas belajar sesungguhnya di kebanyakan perguruan tinggi luar negeri, apalagi di universitas-universitas top.

Kegiatan Lain dalam Hal Pembentukan Diri Mahasiswa

Berkuliah bukan satu-satunya jalan membentuk pribadi yang tangguh untuk berhadapan dengan dunia kerja. Ada orang menjadi hebat sekalipun tidak berkuliah. Namun, kita semua harus mengakui peran pendidikan dalam membentuk masyarakat yang lebih baik, sebagaimana pengalaman di manapun di muka bumi ini, walau tentu itu juga harus memerhitungkan sistem pendidikan macam apa yang bekerja.

Salah satu jalur pembentukan diri mahasiswa sebagai pribadi utuh, lengkap, adalah lewat kegiatan-kegiatan ekstrakurikuler. Dalam pengalaman pribadi saya, jelas hanya di St. Olaf referensi hidup saya lebih baik karena selama menempuh pendidikan master di Groningen, saya tidak banyak bersentuhan dengan kegiatan kemahasiswaan, walau saya pernah melihat anggota-anggota organisasi kemahasiswaan tertentu sedang melakukan penerimaan anggota.

Menyangkut kegiatan kemahasiswaan, FE masih bisa cukup berbangga karena merupakan salah satu fakultas yang tinggi tingkat aktivitas kemahasiswaannya, walaupun partisipasi mahasiswa di kegiatan-kegiatan inipun harus “dipaksa”.

Lain dengan mahasiswa St. Olaf yang membentuk sendiri organisasinya, merancang dan mengeksekusi kegiatan-kegiatannya (mengingat banyaknya organisasi yang ada). Namun, variasi organisasi dan aktivitas kemahasiswaan di FE pun jelas masih perlu ditingkatkan, jika dibandingkan dengan di St. Olaf. Seperti saya katakan, St. Olaf punya sekitar 150 organisasi kemahasiswaan (LK) dari 2900-an mahasiswanya. Luar biasa. Kegiatan diskusi dari satu organisasi ke organisasi lain selalu menghiasi kalender kampus. Ada kelompok yang khusus fokus pada pembelajaran lewat film. Mereka memutar dan mendiskusikan film-film dengan tema-tema yang mereka pilih. Wah, terlalu banyak kalau saya cerita. Namun, inti yang ingin saya sampaikan adalah soal kebebasan minat dan ekspresi yang ditunjukkan lewat pembentukan organisasi dan kegiatan mereka.

Hal lain, kalau mahasiswa-mahasiswa St. Olaf itu tidak berorganisasi, mereka bekerja sebagai part-time worker. Biasanya di dalam kampus, seperti di toko buku, cafe, perpustakaan, walau ada juga yang di luar kampus. Karena itu, ketika mahasiswa partisipan mata kuliah Industrial/Organization Psychology diminta untuk saling memperkenalkan diri, semua yang berkenalan dengan saya menyebut pernah punya pengalaman kerja atau sedang bekerja. Beberapa saya tahu adalah aktivis organisasi kemahasiswaan (LK) karena pernah beberapa kali ketemu di forum tertentu atau belakangan malah ada yang saya “wawancarai” untuk mengetahui seluk-beluk ke-LK-an di St Olaf. Jadi, tidak ada yang “kosongan” ketika lulus, semua punya pengalaman beraktivitas dalam organisasi.

Penutup

Kesimpulan yang ingin saya capai adalah bahwa semua hal di atas menunjukkan driver utama dari aktivitas belajar dan membentuk diri sebetulnya ada pada mahasiswa sendiri. Paling tidak, ini dibentuk mulanya oleh sistem yang menuntut. Pada akhirnya itu menjadi kultur alias kebiasaan mahasiswa. Ini berbeda dari apa yang biasa kita jumpai di Indonesia.

Seperti dikatakan di atas, ambil contoh soal pengalaman berorganisasi, di FE pun fakultas harus menempuh jalan mewajibkan mahasiswa dengan sistem Point Card. Keputusan ini diambil sejak tahun 2000. Belakangan sistem ini diadopsi di tingkat universitas. Namun, selalu saja kita gagal atau belum berhasil membentuk kultur.

Ada yang menuding kegagalan membangun kultur itu karena tabrakan kuliah versus kegiatan kemahasiswaan. Padahal, berdasarkan pengalaman hidup sendiri, beban belajar di Indonesia saya nilai belum ada apa-apanya, kecuali cuma kebanyakan mata kuliah, bukan kebanyakan belajar. Jadi, seolah-olah, untuk yang baru seperti itupun kita sudah mengeluh. Lha kapan kita siap untuk memikul yang benar-benar berat?

Semoga ini dapat memberi inspirasi untuk maju menjadi lebih baik di kemudian hari.

Neil Rupidara
Dosen Fakultas Ekonomi

Komentar
  1. dedi mengatakan:

    trims untuk pengalamannya

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s