Dibalik Nama Asisten Dosen

Posted: November 11, 2008 in Berita
Tag:, , , , ,

Saat tes —biasanya tes tengah atau akhir semester— mahasiswa akrab dengan “pengawas tes”. Bagi yang suka buat curang, awas, bisa-bisa kena semprot atau peringatan. Kalau ketahuan, oleh mereka: para “pengawas tes” yaitu asisten dosen.

Asisten dosen menindak mahasiswa yang melanggar saat tes. Melanggar? Biasanya contek-menyontek. Ingat kasus asisten dosen bernama Yudhi Hermawan. Yudhi yang mengawas tes, melihat adanya “ketidakjujuran” mahasiswa. Yudhi lantas mengawasi lebih ketat.

Naas. Malah ribut. Perkelahian terjadi. Di dalam kelas,Yudhi dipukul dan dilempar handphone.

Asisten dosen banyak tugas. Bantu-bantu dosen atau kasih kuliah, di luar kelas dosen. Jaga tes juga. Saat jaga tes, asisten dosen seperti berfungsi sebagai polisi jujur. Nah, apa jadinya bila asisten dosen —yang juga mahasiswa itu— menyontek? Adakah?

Perkara contek-mencontek dibahas dalam rapat korps asisten dosen, Rabu, 5 November 2008. Ditegaskan ada “beberapa asisten dosen” ketahuan mencontek.

“Pas di rapat enggak (diberitahu) secara personal. Kita secara general aja. Semua supaya jangan sampai terulang,” kata Suprayogi, koordinator asisten dosen.

Menurut Suprayogi, indikasi asisten dosen mencontek didukung bukti. Kepergok kerabat satu korps. “Di setiap tes kan ada yang jaga, kebetulan waktu kita jaga, ternyata yang nyontek itu asisten,” tambah Suprayogi.

Sampai saat ini, korps asisten dosen akan membuat berita acara kepada pejabat sementara (Pjs) Wakil Dekan Komala Inggarwati. Akan dipertimbangkan. apakah tindakan ini dikategorikan “ringan” atau “berat”.

Kalau berat, kemungkinan asisten dosen pencontek itu bakal dikirim surat peringatan. Bila ringan, ya cuma teguran.

Ada kemungkinan disingkirkan dari korps asisten? “Ya, kalau surat peringatan, mereka diperingati, kalau terjadi lagi seperti itu langsung dikeluarkan,” tambahnya. Suprayogi enggan menyebut siapa para pencontek itu.

Menurutnya, jadi asisten dosen dapat dikatakan sebagai bentuk pengendalian diri. Mahasiswa yang tergabung dalam korps asisten dosen, harus sadar.

”Namanya juga asisten dosen, berarti paling enggak dia bisa mencerminkan, bisa jadi contoh, bisa jadi icon. Hal-hal seperti itu (mencontek –Red) bisa ditinggalkan,” katanya. Nama baik jadi taruhan.

Dosen FE, Konta Intan Damanik mengatakan, bukan hanya asisten dosen yang tak boleh mencontek. Semua mahasiswa, tak boleh.

“Mencontek adalah salah satu bentuk dari mencuri,” kata dosen yang mengajar di FE sejak 1979 ini.

Menurut Konta, mencuri berarti mengambil sesuatu bukan miliknya, secara ilegal. Adanya mahasiswa (serta asisten dosen) yang mencontek, mungkin karena terbukanya peluang.

“Seharusnya ketika tes seperti itu, peluang itu harus ditutup,” tambahnya. Caranya, buku atau catatan harus dikumpulkan. Dijauhkan dari meja peserta tes. Handphone? Matikan!

Bagi Konta, cara ini bisa menutup kesempatan atau modus, untuk mencontek.

Asisten Dosen Mencontek, Munafik?

Mencontek, sangat “diharamkan”, setidaknya bagi dosen seperti Konta. Seorang mahasiswa (juga asisten dosen) haruslah menjadi intelektual yang jujur. Kejujuran yang dimulai sejak kecil.

“Sampai dia mati, haruslah menjadi seorang yang jujur,” kata Konta.

Nah, bagaimana bila asisten dosen, yang memasang rambu-rambu saat mengawas tes untuk “bertindak jujur”, malah mencontek? Munafikkah?

“Ketika you, ketika Anda, memberlakukan satu peraturan kepada orang lain,” kata Konta, “tetapi you tidak memberlakukan itu kepada dirimu sendiri, maka you adalah munafik. Absolutely munafik.”

Lain lagi suara dari asisten dosen. “Ya sebenarnya curang!” kata Ivan Taruna.S, mahasiswa yang juga asisten dosen mengomentari kerabat satu korpsnya yang mencontek.

Bagi Ivan, mencontek bukan hanya tak boleh dilakukan asisten dosen, namun juga mahasiswa. Alasannya, karena peraturan berkata melarang.

Bagaimanapun juga, beberapa asisten dosen kini punya catatan hitam. Mungkin peribahasa “nila setitik rusak susu sebelanga” cocok bagi mereka: para asisten dosen. Yang berbuat oknum-oknum tertentu, yang lain bisa ikut tercoreng.

Jujur. Mudah terucap, sulit dikerjakan? Termasuk di FE UKSW? Yang disebut-sebut sebagai salah satu FE terbaik di Indonesia ini.

Yodie Hardiyan

Komentar
  1. JEFRI SUSILO mengatakan:

    MENGAPA SYA KL SIASAT ADA MASALAH

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s