Belajar: Menggali Ilmu Sebanyak-banyaknya

Posted: Mei 25, 2008 in Profil
Tag:, , , ,

Setelah beberapa kali gagal bertemu, akhirnya saya mendapatkan “jadwal pasti” untuk mewawancarai dosen senior Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana (FE UKSW). Dosen ini tersohor akan penerapan disiplin. Di mata mahasiswa, dosen ini juga dikenal tak henti-hentinya memaksa mahasiswa untuk terus membaca; buku maupun media massa. Suaranya yang keras dan lantang, menjadikannya mudah lekat di memori mahasiswa.

Ya, beliau adalah Konta Intan Damanik (KID).

Kami menyepakati hari Kamis (28/03) pukul 09.00 untuk interview. Di Kamis pagi yang cerah, saya menunggu di luar ruang F212A hingga beliau selesai mengajar mata kuliah Ekonomi Internasional pada Program Studi Ilmu Ekonomi.

“Sekarang Dek?” tanya beliau kepada saya sesaat setelah keluar ruang. “Dek” adalah sapa khas KID terhadap mahasiswa.

“Iya, Bu,” jawab saya pasti. Beliau menggangguk pelan dan bergegas turun dari lantai dua Gedung F. Dalam perjalanan menuju kantor fakultas di Lantai 5 Gedung Perpustakaan Pusat (PP), kami berbincang ringan mengenai dimana lokasi yang nyaman untuk wawancara. Beliau menawarkan ruang Reserve di lantai 2 Gedung PP. Tapi saya menawarkan alternatif lokasi yaitu di pusat media massa lantai 3 Gedung PP, karena menurut saya tempat itu lebih “tenang” dibandingkan ruang reserve. Jarang dikunjungi mahasiswa.

Namun dengan berbagai pertimbangan, di ruang kerja KID-lah akhirnya kami bermuara.

Saya ditinggal di dalam ruangan sekitar empat menit oleh KID. Saat sendiri, pandangan saya menyapu seluruh ruangan, memperhatikan ruang kerja yang cukup sederhana. Tak ada perabotan yang begitu mencolok, selain seperangkat komputer. Meja kerja juga tertata rapi dan di atasnya ada beberapa lembar kertas Registrasi Mata Kuliah (RMK) milik mahasiswa.

KID kemudian masuk ke dalam ruangan. Dua gelas teh hangat di tangannya. Satu diberikan pada saya. “Ini dek untukmu. Ayo diminum,” tawar KID halus. Ramah.

Pagi itu, tak sedikitpun tampak KID sebagai sosok yang “mengerikan” seperti halnya saat berada di kelas kuliah. Senyumnya tak jarang mengembang.

Beda Dulu Beda Sekarang

Dewasa ini banyak sekali perubahan dan pergeseran nilai pada mahasiswa. Dosen yang juga mengampu mata kuliah Makro Ekonomi ini bertutur bahwa banyak sekali perbedaan antara mahasiswa dahulu (baca: 1980-1990an- red) dengan mahasiswa sekarang. Nilai-nilai seperti sopan santun di masa lalu, sangatlah dipegang mahasiswa. Ini membuat KID bangga. ”Saya bangga dengan sopan santun mahasiswa dulu,” tukasnya.

KID merasa terjadi degradasi sopan santun pada mahasiswa sekarang.

Diceritakan pula bahwa mahasiswa dahulu, mempunyai semangat juang yang tinggi, fighting spirit dan selalu berusaha keras. Berbeda dengan sikap pada kebanyakan mahasiwa sekarang. ”Sikap seperti ini yang sudah melempem pada mahasiswa sekarang,” ujar dosen yang mengajar sejak tahun 1979 ini.

Dibalik nostalgia masa lalu, ternyata hubungan erat mesra antara ”yang mendidik” dengan ”yang dididik” terjalin manis. Ada peran relasi antara dosen dengan mahasiswa yang turut menghidupkan lingkungan akademis di masa lalu. Mahasiswa selalu mencari peluang untuk dekat dengan dosen. Rumah-rumah dosenpun tidak pernah sepi, selalu diminati mahasiswa untuk ajang diskusi hingga meminjam buku.

Hubungan dosen dengan mahasiswa kala itu sangat dekat. Dosen mengenal mahasiswa lebih dekat karena jumlah mahasiswa yang masih sedikit.

Menurut KID, pola penerimaan mahasiswa, turut mempengaruhi kuatnya relasi tersebut. Untuk masuk FE UKSW, mahasiswa diharuskan mengikuti berbagai tahap-tahap, salah satunya (yang kini telah almarhum), tahap wawancara. Terlebih, yang mewawancarai seleksi masuk mahasiswa ke dalam FE UKSW adalah dosen-dosen. Disinilah keakraban terjalin.

Pandangan KID terhadap Mahasiswa

Beliau bercerita mengenai pengalaman mengajarnya di Filipina. Diceritakan bagaimana mahasiswa di negeri berpresiden Gloria M. Arroyo itu memiliki kemauan yang sangat tinggi dalam membaca buku dan tentunya belajar. Bila ”ditantang” untuk membaca buku, mahasiswa akan menerimanya dengan senang hati. Inilah yang tidak ditemukan KID pada kebanyakan mahasiswa FE UKSW.

”Mahasiswa itu harus belajar!” tegas KID. KID menjelaskan bahwa normatifnya, kesempatan belajar yang dimiliki mahasiswa, seharusnya untuk menggali ilmu sebanyak-banyaknya, pengembangan diri dan kesiapan menghadapi masa depan.

Namun yang terjadi kini adalah, mahasiswa berkuliah semata-mata hanya mencari nilai dan gelar. Tidak ada tantangan untuk mengembangkan diri. Demi nilai segala cara seakan dihalalkan, seperti menyontek. ”Nyontek tidak lagi memalukan,” risau dosen yang kerap tampil casual ini.

Perihal hal ini, KID di kelas kuliah menerapkan gaya mengajar yang ”represif”, yang cukup menjadi momok bagi mahasiswa. Sikap disiplin (pada kelas kuliah KID, tak ada toleransi masuk kelas bagi keterlambatan mahasiswa), himbauan tak henti untuk membaca, gaya bicara yang meledak-ledak ditambah intonasi suara yang tinggi menjadi ciri khas dosen kelahiran Sumatera Utara ini.

Hal tersebut dilakukan tak lain karena mahasiswa sangat perlu dimotivasi dengan keras. KID merasa dengan metode mengajar yang lembut, tidak membuahkan hasil ataupun mencapai sasaran.

Motivasi keras itu juga untuk menghadapi kehidupan mahasiswa sekarang yang cenderung sudah lebih baik dan lebih enak. Tambah KID, budaya yang ada kini juga budaya yang bebas.

Untuk mahasiswa, KID menekankan perlu adanya pemahaman konseptual pada saat belajar. Hal ini dapat menjadi ”alat” bila menghadapi persoalan atau tugas kuliah. Tak lagi belajar sekedar untuk nilai.

***

Wawancara berakhir. Dilanjutkan sedikit ngobrol-ngobrol off the record. Sebelum meninggalkan ruangan, saya disuruh untuk menghabiskan teh yang tadi baru saya teguk sedikit. ”Habiskan dulu tehnya,” suruh KID.

Iya, Bu. Terima kasih.

Komentar
  1. Sri Redjeki mengatakan:

    KID, I love u….
    Many thank’s for not only sience but life that put it’s in my life.
    and I’ m so believed that its from all of your student….

    Many thank’s KID

    May God Bless U n He Gave u a nice,place in heaven,,,,,

    thx KID

    Sri Redjeki
    2189170

  2. arum mengatakan:

    mski blum smpat menggali ilmu dari beliau… lewat tulisan ini saya sdkit banyak mengenal KID.. GOOD^^d

  3. Surya Kamoda mengatakan:

    nice ^_^ “a source of inspiration”

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s