Menilik Kehidupan Seorang SBY

Posted: Maret 31, 2008 in Resensi
Tag:, ,


Judul: Dari Kilometer 0,0

Penulis: Andi A. Mallarangeng

Penerbit: Indonesian Research and Development Institute (Indonesian RDI)

Cetakan kedua: November 2007

Jumlah hal: xviii + 302 halaman

“Alasannya banyak orang ingin tahu tentang berbagai hal kepresidenan, istana, kebijakan-kebijakan presiden, proses pembuatannya, pernyataan dan tnidakan presiden, serta berbagai kegiatannya.”

Itulah alasan Andi A. Mallarangeng menulis kolom secara berkala dalam Jurnal Nasional yang pada akhirnya kumpulan tulisannya dijadikan dalam sebuah buku dengan judul Dari Kilometer 0,0. Judul tersebut menyiratkan bahwa buku ini bercerita seputar kepresidenan.

Apabila Anda tahu “batu kilometer” yang berdiri di berbagai titik di sepanjang jalan, batu tersebut menunjukan jarak suatu lokasi dengan lokasi tertentu. Batu kilometer itu selalu diukur dari alun-alun yang berada di depan kantor pusat pemerintahan sebuah daerah. Jadi apabila kantor pusat pemerintahan suatu negara adalah istana, maka pastinya batu kilometer itu menunjukan 0 kilometer.

Hal-hal mengenai kepresidenan dan istana selalu menjadi hal yang menarik untuk disimak. Mulai dari tempat mana saja yang dikunjungi Presiden, bagaimana perayaan ulang tahun Presiden, hingga reaksi Presiden terhadap isu-isu yang sedang in.

Buku ini bisa membuka pikiran dan cara pandang  terhadap pemerintah. Anda tidak akan menemukan kritikan atau kelemahan pemerintahan Susilo Bambang Yudhyono (SBY). Buku ini lebih menonjolkan sisi positif daripada sisi negatifnya. Bagaimana tidak, penulis adalah seorang  Juru Bicara (Jubir) Kepresidenan yang saat ini masih menjabat. Dan tidaklah etis bahwa seorang Jubir mencari kesalahan atau kelemahan presidennya sendiri secara terang-terangan. Unsur subjektifitas memang begitu kentara kuat pada buku ini. Meskipun jangkauan ulasannya begitu sempit, Andi A. Mallarangeng bisa menyajikan cerita secara atraktif dan inspiratif.

Penulis buku ini juga ingin menegaskan bahwa SBY tidak berbeda dengan kita, hanya saja SBY mempunyai tanggung jawab yang sangat besar karena dipercaya oleh rakyat untuk memimpin negara ini. Sekalipun Presiden selalu identik dengan kegiatan-kegiatan formal, pembuatan kebijakan, kunjungan resmi dan upacara kenegaraan tetapi siapa sangka SBY juga terkena demam sepabola ketika Piala Dunia berlangsung. Menurut SBY, menikmati Piala Dunia tidaklah mengenal diskriminasi, sah-sah saja ikut menikmatinya asalkan tugas dan disiplin kerja tidak terbengkalai. Piala Dunia tidak boleh dijadikan alasan menurunnya kinerja seseorang.

Menjadi seorang presiden memang beruntung, tetapi untuk beberapa hal menjadi warga negara biasa lebih beruntung daripada menjadi seorang Presiden. Misalnya saja dalam hal makan. SBY tidak boleh makan makanan yang beliau sukai saat itu juga. Makanan presiden harus dites terlebih dahulu oleh dokter istana, karena bila “salah makan”, keputusan-keputusan yang menyangkut hajat hidup orang banyak bisa tertunda. SBY juga tidak bisa jajan semaunya, selain alasan diatas beliau juga tidak ingin menggangu pembeli lain karena kedatangannya.

Banyak hal menarik yang bisa Anda temukan di buku ini. Salah satunya ketika Andi A. Mallarangeng menceritakan ada SBY di Friendster (hal.61). Siapa sangka Presiden SBY mempunyai Friendster? Sempat terbesit pertanyaan ”orang nomer satu paling sibuk di Indonesia masih bisa meluangkan waktu untuk membuka situs Friendster?” Rasanya hal tersebut mustahil.

Memang benar hal tersebut mustahil, ternyata ada oknum yang tidak bertanggungjawab telah menyamar menjadi beliau di dunia maya. Meminjam identitas Susilo Bambang Yudhoyono dan oknum tersebut menjawab pesan atau pertayaan-pertanyaan yang ditujukan untuk beliau dengan penuh percaya diri.

Siapa yang bisa disalahkan? Tidak ada. Tidak ada yang bisa mengontrol dunia maya, yang bisa hanyalah kejujuran dan etika dari tiap-tiap individu. Penulis buku ini mengingatkan supaya lebih berhati-hati menggunakan internet, jangan mudah percaya identitas orang di dunia maya dan jangan menggunakan identitas orang lain tanpa seijinnya.

Tulisan Andi A Mallarangeng ini dikemas begitu menarik, ringan, dan lugas. Kesan yang didapat ketika membuka halaman pertama sama seperti kita sedang membuka buku harian yang dilengkapi dengan ilustrasi menarik pada tiap cerita. Bahasa yang digunakan pun populer sehingga mudah dimengerti oleh pembaca dari berbagai kalangan, mulai dari pejabat, pelajar, mahasiswa, petani, hingga ibu rumah tangga. Warna kertas yang digunakan pada buku ini “nyaman” di mata dan menjadi nilai tambah bagi buku ini.

Tidak ada salahnya mencoba mencicipi tulisan Andi A. Mallarangeng ini. Entah sekedar untuk memenuhi rasa ingin tahu atau sebagai wujud kepedulian pada negara ini, hal tersebut tidaklah menjadi persoalan. Bagi  penggemar rasa pedas, tidak akan menemukan rasa itu pada buku ini. Anda akan lebih sering merasakan rasa manis, berbeda dengan buku-buku “pedas” penuh kritikal terhadap pemimpin atau sistem.

Selamat mencoba.

Putri Purnamasari

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s