Skripsi: Masihkah Karya Mahasiswa

Posted: Maret 21, 2008 in Opini
Tag:, , , , ,

Pengantar: Realita Tergambar Dari Penelitian

Kehidupan di kampus mempunyai makna yang tidak bisa dilepaskan dari pendidikan dan pengajaran, penelitian serta pengabdian kepada masyarakat. Ketiga hal tersebut menjadi nyawa perguruan tinggi dalam mengembangkan ilmu pengetahuan serta teknologi. Oleh sebab itu, civitas akademika suatu universitas perlu sejalan seiring dalam melaksanakan dan menjalankan idealisme yang disebut dengan Tridarma Perguruan Tinggi tersebut. Menyoroti peran perguruan tinggi yang dilihat pada ketiga pilar tersebut, menarik untuk mengamati salah satu pilar (dengan tidak mengabaikan kedua pilar yang lain) yaitu penelitian.

Penelitian/research diartikan secara luas sebagai suatu pemeriksaan atau pengujian yang teliti dan kritis dalam mencari fakta/prinsip-prinsip penyelidikan yang tekun guna memastikan suatu hal (Ndraha 1988 dalam Umar 2004). Lebih lanjut, Umar (2004) menjelaskan bahwa riset memiliki tiga unsur penting yaitu sasaran, usaha untuk mencapai sasaran serta metode ilmiah. Setiap penelitian perlu memperhatikan ketiga unsur tersebut. Patut digaris bawahi adalah unsur kedua dalam riset yaitu usaha untuk mencapai sasaran. Seringkali budaya instan mempengaruhi seseorang untuk menggunakan jalan cepat dan instan untuk mencapai sesuatu. Namun hasil/output yang didapat tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan.

Mengacu pada pernyataan bahwa penelitian sebagai pilar perguruan tinggi serta pengertian research di atas, maka menarik apabila menemui penelitian-penelitian yang dilaksanakan selama ini menyimpang dari patron-patron tersebut. Penelitian seakan hanya menjadi kegiatan-kegiatan bersifat formalitas yang mengarah pada bisnis yang menghasilkan rupiah bukan pada upaya untuk menggali ilmu pengetahuan. Tidak hanya itu, unsur-unsur penelitian sebagai hal krusial seakan-akan diabaikan hanya untuk mengejar target setoran.

Sebagai bagian dari dunia kampus, mahasiswa pun memiliki kewajiban mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi melalui kegiatan penelitian. Kegiatan penelitian itu dilakukan sebagai bagian dari tugas perkuliahan, lomba karya tulis maupun skripsi/tugas akhir. Namun mencermati fakta-fakta yang terjadi, penelitian mahasiswa pun tidak jauh berbeda dengan dengan penelitian yang mengarah ke bisnis yang menghasilkan uang serta meninggalkan substansi riset. Selain itu, unsur-unsur dalam penelitian ilmiah pun tidak dihiraukan, asalkan secara formal target terpenuhi namun secara kualitas amat memprihatinkan. Realita tersebut dapat diketahui apabila mencermati dan mengamati proses maupun sampai membaca dan memahami hasil penelitian.

Di Balik Skripsi

Banyak dimuat dalam berita-berita di media massa baik cetak/elektronik penelitian mahasiswa atau lebih khusus skripsi, merupakan skripsi ”bodong”. Tidak hanya itu saja, proses pembuatan sampai dengan pelaporan hasil penelitian dibuat seolah-oleh memenuhi kaidah-kaidah dan norma-norma penelitian ilmiah, akan tetapi pada kenyataannya tidak. Skripsi telah menjadi barang komoditas yang diperjualbelikan di masyarakat, bukan lagi menjadi rahasia bisnis-bisnis pembuatan skripsi menjadi marak di masyarakat. Banyak mahasiswa yang ramai-ramai mencari ”pembimbing bayaran” dengan tujuan untuk memudahkan dan mempercepat proses pembuatan skripsinya. Layaknya bimbingan dengan dosen pembimbing, mahasiswa tersebut berupaya mempelajari hal-hal yang tertuang dan tertulis dalam skripsinya sehingga seakan-akan skripsi tersebut merupakan jerih payah dan usahanya.

Skripsi dipandang sebagai karya monumental mahasiswa seakan-akan hanya menjadi sebuah permainan. Usaha, kerja keras serta semangat mahasiswa yang tercermin berada dibalik proses pembuatan skripsi sirna dengan bermunculan bisnis skripsi. Output dari proses skripsi yang menuntut semangat juang sehingga dikatakan sebagai karya monumental mahasiswa telah dirubuhkan.

Siapa yang dapat disalahkan? Tentu ada faktor pendorong mahasiswa membeli skripsi serta ada faktor penarik dari bisnis pembuatan skripsi. Manakala mahasiswa sudah dipusingkan dengan proses penyusunan skripsi atau tidak mau dipusingkan dengan penyusunan skripsi, maka dicarilah solusi yang cepat yaitu membeli/menggunakan jasa pihak yang menyediakan jasa pembuatan skripsi. Dari sisi penyedia jasa melihat bahwa bisnis pembuatan skripsi akan menuai untung dengan belajar dari pengalaman bahwa mahasiswa yang sedang menyusun skripsi akan mengalami hambatan, kesulitan sampai kepada deadlock penyusunan skripsi. Oleh sebab itu, didirikanlah jasa penyusunan skripsi. Berawal dari ”gethok tular” sesama teman dekat sampai dengan memasang iklan ”konsultan skripsi”.

Kedua pihak sama-sama diuntungkan. Mahasiswa tidak perlu berpusing-pusing memikirkan latar belakang masalah, konsep definisi konsep atau bagian skripsi yang lain. Mahasiswa tinggal menunggu dibuatkan, dibimbing ke dosen pembimbing, direvisi apabila perlu sampai disetujui untuk ujian. Pada saat akan ujian pun, mahasiswa diajari oleh penyedia jasa bagaimana cara presentasi serta trik-trik menjawab pertanyaan dosen penguji. Penyedia jasa pembuatan skripsi pun menuai untung dalam bentuk rupiah yang tidak sedikit.

Langkah seperti itu sebenarnya layaknya penelitian-penelitian pesanan yang dilimpahkan dari organisasi baik swasta maupun pemerintah kepada konsultan-konsultan baik dari institusi pendidikan maupun swasta. Prinsipnya sama, manakala organisasi akan melakukan penelitian mengenai sebuah topik, namun karena keterbatasan sumber daya manusia, dicarilah konsultan untuk melakukan penelitian tersebut dengan anggaran dan batas waktu yang sudah ditentukan. Pada akhir penelitian dilakukan presentasi dari pihak peneliti ke organisasi pemesan. Keduanya sama-sama untung. Organisasi pemesan memperoleh hasil penelitian, institusi yang melakukan penelitian memperoleh rupiah yang tidak sedikit.

Skripsi dan Unsur-Unsur Penelitian

Lebih lanjut, skripsi sebagai karya monumental mahasiswa dirubuhkan melalui ketidaksesuaian dengan unsur-unsur penelitian, seolah-olah hasil penelitian tersebut hanyalah sebagai formalitas dan tidak mengutamakan subtansi. Berdasarkan pengamatan[1] penulis, hasil skripsi mahasiswa belum memenuhi unsur-unsur penelitian seperti yang telah diutarakan di depan. Kembali lagi pada pernyataan di atas, bahwa kini skripsi hanyalah formalitas untuk lulus dari Fakultas Ekonomi, tanpa melihat kualitas dan subtansi yang terkandung di dalamnya.

Unsur-unsur yang telah dikemukakan meliputi sasaran, usaha untuk mencapai sasaran serta metode ilmiah. Ketiga unsur tersebut merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan. Oleh sebab itu, pengamatan terhadap skripsi ini pun akan meliputi ketiga unsur tersebut. Secara keseluruhan, pengamatan terhadap skripsi ini Penulis dapat dari perbincangan dengan beberapa teman yang sedang menyusun skripsi, membaca skripsi-skripsi yang tersusun rapi di lantai 3 Perpustakaan serta dari pengamatan terhadap perilaku-perilaku proses bimbingan sampai kepada ujian akhir.

Skripsi yang tertata rapi di lantai 3 Perpustakaan dianggap sebagai monumen mahasiswa yang telah menyelesaikan studi di Fakultas Ekonomi. Namun, apa sasaran yang telah dicapai melalui penulisan skripsi tersebut? Topik skripsi mengenai kepuasan konsumen produk X, Strategi pemasaran PT.XXX dan masih banyak topik yang lain seakan-akan hanyalah penelitian formal untuk memenuhi sebagian syarat untuk memperoleh gelar Sarjana Ekonomi. Apakah memang itu yang menjadi sasaran dari skripsi-skripsi? Apakah tidak ada tindak lanjut terhadap hasil penelitian tersebut sehingga memiliki dan memberikan sumbangsih kepada objek yang yang diteliti? Minimal perlu ada tindak lanjut misalnya berupa presentasi hasil penelitian di objek penelitian atau dipublikasikan sehingga khalayak akademisi dan praktisi memperoleh manfaat dari hasil penelitian, tidak hanya teronggok dan tertata rapi di rak.

Memang perlu kerjasama dari berbagai pihak baik Fakultas, mahasiswa dan dosen pembimbing apabila ingin skripsi tidak sekedar berhenti dan menjadi koleksi di perpustakaan. Fakultas perlu menyediakan fasiltas/bentuk-bentuk insentif yang mendukung dan mendorong publikasi-publikasi skripsi mahasiswa. Memang telah ada yang sampai kepada publikasi, namun masih begitu banyak yang belum mengarah ke sana.

Bagian yang kedua mengenai usaha dan upaya untuk mencapai sasaran. Dengan budaya instan yang telah berkembang di masyarakat, dalam penulisan skripsi pun telah dirasuki oleh budaya tersebut. Potret bisnis pembuatan skripsi adalah contohnya. Mahasiswa (tentu tidak semua mahasiswa melakukannya) tidak mau lagi berupaya dan bekerja keras dalam penyusunan skripsinya atau lebih tepatnya tidak mau berpusing-pusing dengan skripsinya. Pergi ke konsultan skripsi menjadi solusi baginya. Tindakan lain adalah dengan cara meniru skripsi-skripsi koleksi yang ada di perpustakaan sehingga tidak perlu membaca buku/jurnal ataupun sumber-sumber yang lain. Dengan demikian, dosa tersebut turun-temurun sampai ke adik-adik angkatan. Dengan meniru tersebut, tidak perlu susah payah membaca buku/jurnal asli sehingga akan memudahkan dalam penyusunan skripsinya karena telah dipermudah dengan merangkum dan meniru hasil yang sudah jadi.

Namun tidak adil apabila hanya menyorot dari sisi mahasiswa. Dari dosen pembimbing pun perlu memiliki upaya dan bekerja keras dalam membimbing skripsi mahasiswanya. Pernah seorang teman mengirim surat kepada dosen pembimbingnya bahwa tanpa peran dosen pembimbing, maka proses penyusunan skripsi tidak akan pernah berhasil. Hal tersebut dia lakukan karena selama proses bimbingan tidak pernah bertemu langsung dosen pembimbing. Skripsi dikumpulkan, dikoreksi dan dikembalikan dengan sudah ada corat-coret bak tulisan seorang dokter kemudian diambil oleh mahasiswa tersebut. Atau ada kejadian, dosen pembimbing tidak membaca skripsi yang dikumpulkan hingga sampai ujian ternyata didapati banyak kesalahan. Atau lebih parah lagi skripsi yang dikumpulkan untuk proses bimbingan hilang. Lalu bagaimana mahasiswa bisa bersemangat apabila dosen pembimbing tidak mengarahkan dan melaksanakan proses bimbingan dengan baik? Sekali lagi perlu komitmen dan kerja sama dari berbagai pihak untuk menghasilkan output penelitian yang berhasil.

Bagian ketiga adalah yang mengenai metode ilmiah. Metode ilmiah memiliki kriteria (Nazir 1998 dalam Umar 2004):

1. Berdasarkan pada fakta, maksudnya berdasarkan fakta yang nyata bukan kira-kira, legenda-legenda dan semacamnya.

2. Bebas dari prasangka, maksudnya bebas dari sudut pandang yang subjektif tetapi benar-benar berdasarkan alasan dan bukti lengkap dengan pembuktian yang objektif.

3. Menggunakan analisis, maksudnya permasalahan harus dicari sebab-sebabnya serta pemecahannya dengan menggunakan analisis yang logis.

4. Menggunakan ukuran yang objektif, maksudnya selama melakukan proses penelitian tahapan-tahapan hasil yang dicapai dapat diukur dengan alat yang objektif.

Cobalah mengamati skripsi-skripsi yang ada di perpustakaan. Secara laporan memang telah tersusun secara sistematis menurut metode ilmiah. Dalam dalam prosesnya masih banyak yang tidak berdasarkan fakta yang sebenarnya di lapangan. Contoh sederhana, secara metodologi penelitian, suatu skripsi menggunakan probability sampling, namun di lapangan dilaksanakan dengan cara non probability sampling. Hal tersebut dilakukan dalam upaya untuk mempermudah dan mempercepat memperoleh data. Secara metode ilmiah hal tersebut keliru. Dilihat dari unsur upaya untuk mencapai sasaran, tindakan tersebut tidak memiliki upaya yang maksimal untuk mencapai sasaran. Pernah suatu saat mendengar ucapan seorang mahasiswa bahwa yang terpenting adalah impresi dan bagaimana meyakinkan dosen pembimbing dan penguji meskipun metode yang digunakan tidak sesuai dengan kenyataan di lapangan atau dengan kata lain “sekali berbohong teruslah berbohong” tentang penelitian itu.

Yang paling menyedihkan adalah manakala menjumpai pengakuan seorang mahasiswa yang melakukan penelitian dengan menggunakan kuesioner, namun sama sekali kuesioner tersebut tidak diperbanyak dan tidak diberikan kepada responden. Semua jawaban langsung di ketik dengan “mata peteng” di Microsoft Excel. Ada pula yang diperbanyak namun diberikan tidak pada responden yang dimaksudkan, melainkan meminta bantuan teman-temannya untuk diisi. Dalam pemikirannya, toh dosen pembimbing tidak tahu apalagi dosen penguji, yang penting output dari penelitian itu ada meskipun tidak sesuai dengan fakta dan kenyataan di lapangan.

Sekali lagi peran dosen pembimbing sangat krusial dalam mengarahkan mahasiswa untuk menggunakan metode ilmiah dalam penulisan skripsinya. Namun muncul pertanyaan, apakah dosen pembimbing pun telah menganggap bahwa skripsi hanyalah sebagai formalitas untuk mendapatkan gelar Sarjana Ekonomi? Karena pernah suatu saat melihat ujian terbuka seorang teman mahasiswa dan dosen penguji menilai bahwa mulai dari awal sampai dengan akhir skripsinya salah. Teman tersebut tidak mampu mempertahankan skripsinya di hadapan dosen penguji, dia hanya terdiam. Malahan dosen penguji mengatakan bahwa hanya memberikan apresiasi karena berani melakukan ujian terbuka. Namun, toh juga lulus. Tidak adakah standar yang pasti dalam penilaian skripsi seorang mahasiswa? Namun, pernah juga mendapati mahasiswa yang melakukan ujian tertutup, skripsi tersebut lebih sistematis dan lebih baik dari skripsi yang pertama tadi, malahan mahasiswa tadi tidak lulus. Apakah apabila ujian terbuka langsung lulus tanpa melihat kualitas tulisan dan presentasi?

Lebih mengkhawatirkan lagi adalah skripsi yang telah disetujui serta telah lolos ujian masih belum mengindahkan penulisan-penulisan ilmiah. Mengutip pernyataan orang lain baik dari buku, jurnal atau sumber lain namun tidak mencantumkan nama penulis yang bersangkutan. Padahal di skripsi-skripsi telah ada pernyataan keaslian karya tulis skripsi, namun toh masih banyak yang mengingkari penyataan tersebut. Juga dijumpai kasus sumber kutipan di badan tulisan ada tercantum namun di daftar pustaka tidak dijumpai, namun toh skripsi tersebut telah lolos sensor baik pada saat bimbingan dan proses ujian. Melihat dan mengamati fakta-fakta tersebut, sedemikian lemahkah pengawasan mutu/kualitas karya tulis mahasiswa di Fakultas ini?

Winarto
Mahasiswa Program Studi Manajemen Angkatan 2003

Komentar
  1. miphz mengatakan:

    Menulis skripsi hanya dalam 30 hari? Judulnya cukup menggigit, menggoda, sekaligus menimbulkan kesan utopis. Dari beberapa komentar pembaca buku ini pada halaman awal; ada dari mahasiswa, biro jasa penulisan skripsi, dosen, dan pembaca umum, banyak penilaian positif-negatif dari buku ini. http://miphz.wordpress.com/2009/12/12/cara-mudah-menulis-skripsi-dalam-30-hari/

  2. ViCi mengatakan:

    nice bro…gw setuju dg isi tulisan lo

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s