Indonesia Mengalami Krisis Identitas, Benarkah?

Posted: Maret 8, 2008 in Opini
Tag:, ,

Posisi Indonesia dalam perekonomian global secara umum diakui memiliki posisi sangat penting. Indonesia kaya akan SDA dan SDM, unggul dalam berbagai hal (aktivitas pertanian dan industri manufaktur), penghasil beras terbesar nomor tiga setelah Cina dan India, penghasil kelapa sawit terbesar nomor dua (setelah Malaysia), penghasil karet alam terbesar nomor dua (setelah Thailand), penghasil kopi, penghasil cocoa (coklat) dan juga penghasil mineral (timah, tembaga, nikel, coal, emas, perak dan permata). Dilihat dari sisi sumber daya, bisa ditarik kesimpulan bahwa Indonesia sebenarnya mempunyai posisi yang unggul dalam perekonomian global.

Gambaran umum Indonesia menyatakan bahwa Indonesia berada pada posisi yang kuat dan unggul. Tetapi kemudian muncul pertanyaan, identitas apa yang sebenarnya paling cocok diberikan untuk negara kita? Kenapa negara kita seperti kesulitan dalam memberi identitas bagi negaranya sendiri? Seperti yang kita ketahui bersama, Indonesia dijuluki sebagai negara “agraris” sejak dahulu kala karena separuh penduduk Indonesia yaitu sekitar 30 juta orang menggantungkan kehidupannya pada sektor pertanian.

Nah, akan tetapi julukan “agraris” bagi kita justru bertolak dengan realitas. Tidak klop antara potensi dengan hasil nyata yang ada. Justru produktivitas di sektor pertanian (agraris) sangat rendah, diketahui dari kontribusi sektor pertanian dalam Gross Domestic Product (GDP) hanya sebesar 13,8% sementara sektor industri pengolahan (manufaktur) lah yang memberikan kontribusi terbesar yaitu 27% (BPS, 2007).

Kemudian, ada keunikan yang kita temukan. Ya, total angkatan kerja di Indonesia berjumlah 106 juta orang; sebesar 50% berkerja di sektor pertanian dan di sektor industri kurang dari 15% (yang malah memberikan kontribusi lebih tinggi). Dipandang dari segi kontribusi maka yang memberikan kontribusi lebih tinggi pada GDP adalah sektor industri, bukan sektor pertanian. Dengan realitas tersebut timbul kembali pertanyaan, yaitu mengapa negara kita justru tidak bisa disebut sebagai negara industri?

Jawabannya adalah karena ada masalah-masalah dalam industri di Indonesia. Suatu negara bisa disebut sebagai negara industri yaitu dengan kesepakatan (negara industri tidak ada definisinya) bahwa negara tersebut bisa menciptakan sesuatu yang belum ada menjadi ada dan mempunyai teknologi menengah dan tinggi. Mayoritas industri di Indonesia hanya menggunakan teknologi rendah saja sehingga sektor ini tidaklah menimbulkan dampak yang besar bagi ekonomi makro Indonesia.

Teknologi yang rendah merupakan salah satu permasalahan dalam industi pengolahan (manufaktur) Indonesia. Permasalahan yang terkait lainnya adalah tidak adanya kebijakan industri nasional yang jelas. Pemerintah dan rakyat Indonesia tidak punya rencana pembangunan sektor industri yang jelas sehingga industri berkembang secara alamiah tanpa arah, tanpa adanya struktur dan basis industri yang lemah (sejumlah industi tidak saling mendukung, tidak ada kaitan).

Yang terakhir adalah tidak ada atau rendahnya Reseach and Development (R&D) pada industri. Itulah yang membuat Indonesia kesulitan “memberi nama” (mengalami kritis identitas) karena tidak mempunyai ciri-ciri yang jelas.

Nah, ayo kita fokus atau menetapkan langkah yang akan ditempuh bersama, supaya dapat memperbaiki keadaan sehingga permasalahan-permasalahan bisa teratasi, minimal bisa berkurang!

Linceria Roseline Marbun

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s