Muhammad Yunus: Pahlawan Kaum Miskin dan Pengemis di Bangladesh

Posted: Februari 22, 2008 in Profil
Tag:, , , , ,


Tahukah siapa Muhammad Yunus? Ya, beliau adalah orang pertama dalam bidang ekonomi yang mendapat penghargaan nobel perdamaian dunia tahun 2006, di Dhaka, Bangladesh. Siapa yang pernah menyangka penghargaan tersebut bisa diraih oleh beliau, bahkan hingga detik-detik terakhirpun namanya tidak pernah disebut-sebut sebagai salah satu nominasi penerima nobel perdamaian 2006. Maklum mayoritas penerima nobel perdamaian berasal dari kalangan politikus atau negarawan.

Pria kelahiran 24 Juni 1940 ini memulai mengukir kisah luar biasanya ketika ia menjadi seorang profesor di Universitas Chittagong. Ketika itu ia mengajak beberapa mahasiswanya untuk mengunjungi desa-desa miskin di Bangladesh. Betapa perih hatinya ketika melihat kelaparan melanda banyak penduduk setempat hingga menewaskan ratusan ribu orang.

Pada saat itu ia mempunyai keinginan untuk membantu kaum miskin dan para pengemis. Keinginannya semakin kuat ketika ia menyaksikan seorang perempuan pengrajin bambu bernama Sufia Begum yang selalu meminjam uang kepada tengkulak untuk bisa membuat bangku bambu. Sufia meminjam 5 Taka atau setara dengan Rp.850 untuk setiap bangku dengan mengembalikan bunga sebesar Rp.184. Perempuan ini tinggal di desa Jobra dekat dengan Universitas Chttagong. Menurut Yunus, ia tidak perlu menjadi budak hanya karena 5 Taka. Satu hal yang tidak ia mengerti mengapa perempuan itu hidup begitu miskin padahal ia bisa membuat kerajinan yang bagus.

Pada awalnya Muhammad Yunus meminjamkan 27 Dollar AS dari sakunya sendiri untuk memecahkan masalah Sufia dan temen-temannya sesama pengrajin. Ia menjadikan uangnya sebagai kredit tanpa agunan dengan pembayaran yang fleksibel. Ia menerapkan kredit mikro dengan sistim “grup solidaritas”, dimana sekelompok kecil peminjam saling bertindak sebagai penjamin satu sama lain.  Ia mempunyai keyakinan bahwa orang miskin hanya kurang mendapat akses untuk bisa hidup lebih baik. Ya memang benar, kita semua tahu tidak ada orang yang bisa meminjam sejumlah dana pada bank kalau kita tidak punya sesuatu yang dapat dijadikan jaminan. Orang miskin tak punya apa-apa, oleh karena itu mereka tak bisa meminjam uang pada bank dan tentu saja hidup mereka tetap sama, miskin. Sedangkan bagi orang kaya, mereka bisa menigkatkan kualitas hidup mereka karena mereka mempunyai akses kredit yang cukup lancar.

“Ketika banyak orang sedang sekarat di jalan-jalan karena kelaparan, saya justru sedang mengajarkan teori-teori ekonomi yang elegan,” katanya.

“Saya mulai membenci diri saya sendiri karena bersikap arogan dan menganggap diri saya bisa menjawab persoalan itu (kemiskinan). Kami profesor universitas semuanya pintar, tetapi kami sama sekali tidak tahu mengenai kemiskinan di sekitar kami. Sejak itu saya putuskan kaum miskin harus menjadi guru saya,” tambahnya.

Sejak saat itu uang yang ia pinjamkan selalu bergulir dari salah satu peminjam ke peminjam lainnya. Dari satu desa menjadi ratusan desa. Hal ini menjadi cikal bakal berdirinya Grameen Bank, sebuah bank resmi dan independen tepatnya pada tanggal 02 Oktober 1983. Grameen Bank berarti “Bank Desa” dalam bahasa Bengali.

Pada tahun 2003 Muhammad Yunus membuat program baru yang dinamakan “The Strugling Members Program” yang ditujukan khusus untuk para pengemis dan program ini dapat berjalan dengan lancar. Bank ini juga telah berkembang menjadi Grameen of Family Enterprises yang membawahi delapan lembaga profit dan non-profit dengan visi dan misi sosial.

Usaha luar biasa Muhammad Yunus kini banyak dilirik oleh berbagai negara dan lembaga-lembaga keuangan diseluruh dunia. Bahkan Bank Dunia yang dahulu meremehkan usahanya, kini mengadopsi gagasan kredit mikro. Faktanya, lebih dari 17 juta orang miskin di seluruh dunia telah terbantu dengan program ini.

Bagaimana dengan Indonesia? Dalam satu kesempatan, Muhammad Yunus optimistis pada tahun 2030 Indonesia bisa mengurangi kemiskinan hingga nol persen asalkan Indonesia sudah berada pada jalur yang tepat sama seperti Bangladesh.

Putri Purnamasari

Komentar
  1. ancobl mengatakan:

    saat mengikuti LMKM (april 2010), saya mendapat materi yang membahas tentang PMB (profit maximation Bussines)..

    ketika pembicara bertanya:: “pabrik rokok harus ditutup atau tidak??”.
    beberapa dari kami mengatakan “tidak”, karena kasian pada petani temabakau.
    namun, tahukah kita bahwa,,itu adalah PMB yang membuat kita susah menyamai bangladesh…
    Petani kecil dijadikan alasan agar rokok tetap bisa subur, dan membunuh lebih banyak jiwa.. apakah itu baik???
    Bangladesh membuat sosial bisnis yg dikelola oleh orang2 miskin. orang miskin tersebut sebagai pemegang saham..
    Indonesia??? smua hanya mencari keuntungan…

    muNgkin Indonesia harus lebih berbenah..untuk menyamai bangladesh..

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s