Sampai Waktu yang Belum Ditentukan

Posted: Februari 8, 2008 in Feature
Tag:, , , , , , ,

Pers mahasiswa adalah pers sontoloyo dan brengsek, apalagi pers mahasiswa aras fakultas. Dicemooh, ditonton dan ditunggu kapan mati setelah penerbitan perdananya. Begitu juga IMBAS, terbit tiga kali selalu dalam bentuk edisi perdana.
~yap dalam Imbas (1987)

Halo, apa kabar Imbas? Pers mahasiswa Fakultas Teknik Elektro dan Sistem Komputer (FTEK) Universitas Kristen Satya Wacana, Salatiga ini tak terdengar (lagi) gaungnya. Ke mana gerangan?

Imbas tak sedang dibredel seperti pada 1987. Tak pula kesulitan keuangan. Imbas —organisasi dalam naungan Senat Mahasiswa (Sema) FTEK, pasti dapat gelontoran dana berkegiatan. Pada periode 2007/2008 Sema FTEK lalu, Imbas tak terbit.

“Enggak terbitnya ya gara-gara mandek di semangat kerja redaksinya,” kata Ivan Fredric Dwitama Patty, pada suatu wawancara. Ivan pemimpin redaksi “terakhir”. Saat itu, Imbas gagal terbit.

Kata Ivan, sebenarnya tulisan materi majalah ada. Dari redaksi ada, kontributor apalagi. Bisa tinggal cetak. Meski seadanya dan dirasa kurang.

“Tapi ya itu, semangatnya kurang,” ujar Ivan, yang kini aktif di Experimental Technique FM (XT FM), radio kampus yang digerakkan mahasiswa FTEK. Tuturnya, ada beberapa awak redaksi “enggak jalan.”

Pada periode tersebut Imbas hanya menggelar pelatihan jurnalistik. Kerja sama dengan Lembaga Pers Mahasiswa Scientiarum UKSW. Mendatangkan Andreas Harsono, alumni Imbas era ‘80-an, sebagai instruktur. Andreas Harsono pernah menerima Nieman Fellowship on Journalism dari Universitas Harvard, Cambridge, Amerika Serikat.

Dari redaksi Imbas, hanya si pemimpin umum, Parlindungan Joy Sagala yang ikut pelatihan. Awak redaksi lain, lenyap. Tak ikutan. Ada yang berkutat kepanitiaan “Malam Temu FTEK”. Pemimpin umum tersebut, selang beberapa bulan kemudian lulus kuliah. Praktis, awak redaksi lain (yang masih tercatat sebagai mahasiswa) tak bawa oleh-oleh apa pun pelatihan tersebut. Tak punya semangat ngimbas-ngimbasan?

Bicara perkara semangat, acap kali sulit mengukurnya. Namun bila menoleh ke belakang, —sejarah Imbas, api semangat ber-pers mahasiswa terasa hangat. Garang dan punya nama.

Dalam buku Kemelut UKSW (mengulas konflik UKSW 1993-1997 gara-gara pemilihan rektor ke-4) nama Imbas disebut berulang kali. Boleh ditebak, Imbas media yang cenderung kontra rektorat. Buku yang belum terbit edisi cetak itu juga menceritakan Imbas tahun 1987 —yang punya andil bikin ger-geran kampus karena surat “panas” pembangkang-cum-dosen Pascasarjana, Arief Budiman.

Saking garangnya, Imbas-pun sempat kena bredel. Stanley mencatat pada Negara, Intel dan Ketakutan (Kanisius, 2006), Imbas dibredel rektorat karena “tidak tunduk ketentuan yang ada” pada 1987.

Kejadian pembredelan pers mahasiswa Indonesia di era Orde Baru, Imbas tak sendirian. Majalah Arena dari Institut Agama Islam Negeri Kalijaga, Yogyakarta (1987), majalah Balairung Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta (1993) dan Ganesha Institut Teknologi Bandung (1994) punya nasib sama.

Pada buku kumpulan sajak, Aku Ingin Jadi Peluru (Indonesiatera, 2004), Imbas juga tercatat sebagai penerbitan mahasiswa yang pernah mempublikasikan sajak Wiji Thukul.

Siapa Wiji? Adalah penyair-cum-aktivis Partai Rakyat Demokratik, organisasi radikal yang dikambinghitamkan sebagai “komunis baru” oleh rezim berkuasa tahun 1996. Wiji, yang entah di mana jasadnya kini, dikenal dekat dengan gerakan para pembangkang dari Salatiga, kota kecil nan sejuk UKSW terletak.

Membaca secuil sejarah, andai Imbas seekor anjing, tampaknya tergolong anjing doyan menyalak. Boleh jadi tak masuk tipikal anjing piaraan kecil (lap dog) —yang imut. Apalagi diajak majikan ke salon bersolek manis.

Sekarang, pada periode 2008/2009, Imbas lebih “gawat”. Bukan tambah nyaring gonggongan, kebisuan malah menyertai. Kantor redaksi di lantai dasar Perpustakaan Universitas, bertetangga persis XT FM, beralih fungsi. Jadi kantor Lembaga Kemahasiswaan FTEK. Gambar dengan tulisan “Fight For Democracy” yang terpajang di dinding ruangan, saat masih dihuni Imbas, tak lagi mejeng. Lho?

“Ya. Vakum.” kata Ivan. “Emang masalahnya dari dulu regenerasi. Kemarin nyari pimred (pimpinan redaksi) yang baru, susah juga. Mungkin karena yang berminat ke dalam hal-hal jurnalistik kebanyakan memang yang tua.”

Di Buletin Anak Teknik bernomor 1/November 2008 terbitan Sema FTEK, Imbas tak tercantum (lagi) di daftar kelompok bakat minta di Bidang II (Professional Skill)!

Minat

Ada lelucon berbunyi: tambah tua, belum tentu tambah dewasa. Juga dapat disemat pada mahasiswa, semakin lama masa studi, apakah tambah kritis? Pers mahasiswa —melulu dominasi yang ”tua”? Bagaimana mahasiswa ”tua” itu? Yang lewat batas masa studi normal, bangkotan atau re-admisi? Dan apakah, mahasiswa “muda” belum pantas gabung pers mahasiswa?

Barangkali Ivan –mahasiswa angkatan 2005, berujar soal minat jurnalistik mahasiswa ”tua” itu mengingat pemimpin redaksi sebelumnya, pada 2006/2007 adalah Bagus Ferry Permana, mahasiswa angkatan 2001, yang bermahasiswa tujuh tahun.

“Tapi mungkin salah gue juga kali kurang perhatian. Tapi ya enggak apa-apa. Itu pilihan mereka kok. Daripada gue paksa-paksa tapi kerja setengah hati,” kata MeQ, panggilan akrab Ferry.

MeQ sudah memprediksi kevakuman bakal mendera. Terasa sedikit menyindir, kata MeQ, anak-anak Imbas zamannya Ivan gaya-gaya korban MTv (Music Television).

“Gue kan orangnya enggak bisa maksa. Soalnya waktu gue mulai suka dunia Imbas (jurnalistik kampus) gue juga enggak dipaksa. Gue sadar sendiri. Gue pengennya mereka kayak gitu Tapi kalau mereka punya pilihan lain ya enggak apa-apa. Kalau mereka merasa XT (radio kampus —Red) lebih baik dan lebih gaul ya enggak apa-apa,” tambah MeQ, yang kini berkecimpung di ranah media komunitas, Magic Wave (Bali).

Bicara populasi gender, mahasiswa FTEK didominasi kaum Adam. Begitupula kelompok bakat minatnya, di sana sini lelaki —termasuk Imbas. Namun, XT FM yang masih di bawah bendera Sema FTEK, tak melulu lelaki. Juga dihuni para mahasiswi jago cuap-cuap dari fakultas non-FTEK sebagai penyiar….

Sebenarnya, kata Ivan, ada mahasiswa FTEK minat masuk Imbas kok. Momen tepat bangkitkan gairah ber-pers mahasiswa fakultas teknik? Entah salah strategi atau pasrah, tawaran tak tanggung dilayangkan. Peminat langsung ditawari jadi pemimpin redaksi!

“Wah ini, kalau kayak begini ya enggak regenerasi,” kata Ivan, meniru ucapan para peminat tersebut. Peminat itu urung masuk.

Tak jua dapat pemimpin redaksi, Imbas divakumkan.

Mati suri?

Bagaimana tanggapan yang dulu berkecimpung di media berslogan “Santiran Idealisme FTJE” (dulu FTEK bernama Fakultas Teknik Jurusan Elektro) ini?

“Saya sama sekali tidak khawatir kalau Imbas akan mati. Bahwa saat ini tak terbit-terbit adalah iya, tapi ia hanya mati suri saja, tidak sungguh-sungguh mati,” tulis Yunantyo Adi Setiawan di wawancara via email. Adi bekas anggota Imbas 2003-2004. Ia sekarang wartawan harian Suara Merdeka di Semarang.

Ketidakkhawatiran Adi menimbang kondisi historis. Sebelumnya, Imbas memang sempat mati suri, rentang waktu 1998-2003, sebelum dihidupkan lagi.

“Yang namanya pers mahasiswa itu ya muncul tenggelamnya tidak pasti, tak beraturan, alias imbas-imbis. Ini memang sangat bergantung pada situasi dan jiwanya mahasiswa itu sendiri, mereka yang terlibat di dalamnya,” cetus Adi.

Di sisi lain, ia menduga, kepemilikan kantor Imbas adalah “kelemahan”. Kenapa? Ia menilik zamannya. Kantor tak punya. Dana penerbitan apalagi. Membuka kotak sumbangan di kafe kampus pun dilakoni. Duh, terasa militan dan bergairah.

“Dengan keterbatasan, justru orang mau berusaha,” kata Adi, yang semasa mahasiswa rajin demonstrasi (sampai-sampai dipanggil Adi Demo dan pernah menantang berkelahi pejabat pemerintah saat unjuk rasa).

Adi yakin, satu dua tahun lagi, maksimal tiga tahun, akan ada mahasiswa FTEK menekuni Imbas. Mungkin saja, keadaan Imbas sekarang yang tak lagi punya kantor, sanggup menyulut sumbu api pergerakan pers mahasiswa.

Adi berharap Imbas segera terbit. Mungkin saja juga banyak pihak yang mengharapkan Imbas bangkit, menggonggong lagi dan ah, kalau perlu menggigit. Tapi, sampai kapan vakum?

“Sampai waktu yang belum ditentukan,” kata Ivan, mahasiswa berambut gondrong itu. Bisa jadi Ivan serius. Bisa juga bercanda. Atau malah apatis?

Waktu yang bakal cerita. Kayak apa kisah Imbas besok. Bangkit atau betah menggonggong dalam mati surinya. Imbas —santiran idealisme FTEK?

Yodie Hardiyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s