Mahasiswa, dengan segala label yang melekat -baik ataupun buruk- berada pada jalur kehidupan bermahasiswa yang dipilihnya. Banyak lagak ragam mahasiswa. Ada mahasiswa yang belajar dengan sungguh-sungguh, mahasiswa yang tersesat dalam “kelinglungan”, serta mahasiswa yang menceburkan diri dalam gerakan mahasiswa.

Deskripsi akan mahasiswa yang disebutkan terakhir masih abstrak untuk disikapi. “Gerakan mahasiswa?” Terdengar tak lebih dari ucapan yang sok heroik dan sok aktivis. Hare gini berceloteh mengenai kegiatan yang sangat tidak “labour market”? Untuk apa? Emangnya berguna di dalam dunia keprofesian pasca lulus kuliah? Lantas, apa hakikat sebenarnya dari gerakan mahasiswa itu sendiri?

Wakil Presiden pertama Indonesia Muhammad Hatta berujar bahwa pemuda yang diantaranya sebagian besar terdiri dari para mahasiswa adalah harapan bangsa dan pelopor dalam setiap perjuangan. Gerakan mahasiswa adalah salah satu aplikatif dari hal itu. Perjuangan gerakan mahasiswa kini bukan lagi dalam perjuangan phisycally melawan penjajah layaknya di jaman perang dahulu. Tetapi perjuangan membela yang tertindas oleh kelas atas. Baik penguasa negeri, kaum pemodal bahkan rektorat maupun fakultas.

Namun, gerakan mahasiswa kini hanyalah tanda tanya dalam benak mahasiswa di era euforia reformasi ini. Gerakan mahasiswa dianggap kegiatan yang tidak “gaul” atau kurang kerjaan bagi sebagian mahasiswa. Yang dianggap boleh melaksanakan gerakan mahasiswa hanyalah oleh kaum tertentu (aktivis, mahasiswa abadi atau organisasi pergerakan). Padahal tidak! Gerakan mahasiswa boleh dilakukan oleh golongan mahasiswa dari semua latar belakang, termasuk yang ber-IPK 3,99 atau 0,01!

Demonstrasi: Kesia-siaan, Frustasi  dan Tujuan

Ada beragam bentuk dari gerakan mahasiswa. Mulai dari aksi “turun ke jalan” hingga propaganda melalui tulisan. Demonstrasi, seni teatrikal, penerbitan media massa kampus resmi (maupun terselubung) dan forum diskusi yang disertai follow up dalam bentuk praksis aksi, merupakan opsi langkah dalam ritual pergerakan mahasiswa.

Salah satu bentuk gerakan mahasiswa yang sekarang berfrekuensi minim adalah demonstrasi. Banyak pro-kontra mengenai bentuk gerakan mahasiswa yang satu ini. Demonstrasi dipandang hanya sebagai sebuah proses perjuangan yang seringkali berujung pada antiklimaks. Hasil akhir yang dicapai dari kegiatan ini tidak selalu berbuah manis. Menilik dari hasil akhir, demonstrasi akhirnya divonis sebagai kesia-siaan. Apa tujuan demonstrasi itu sebenarnya?

Goal demonstrasi sebenarnya adalah menyampaikan pesan. Pesan yang diharapkan didengar oleh para “penguasa”.  Pesan ini disampaikan dengan cara turun ke jalan, berorasi dan membentangkan media (spanduk, poster) yang berisi tuntutan. Dialog antara demonstran dengan pihak-pihak terkait juga sangat diharapkan oleh para demonstran. Tujuan dialog adalah terjadinya komunikasi dua arah sehingga bisa menghasilkan kontrak sosial.

Dalam proses komunikasi pesan, demonstran kerap diteror oleh kefrustasian manakala pesan yang disampaikan tak pernah didengarkan. Jangankan didengar, digubrispun menjadi hal nihil. Tindakan lost control dapat tersulut dari kefrustasian tersebut. Tindak anarkis hingga vandalisme kadang tak bisa dihindari. Tentu, dampak dari tindakan lost control ini adalah respon negatif dari masyarakat luas. Respon negatif inilah yang turut menyurutkan sokongan moril maupun partisipatif dari mahasiswa serta masyarakat luas terhadap demonstrasi.

Bukan berarti demonstrasi lantas berkonotasi haram. Tindakan lost control itu bisa diminimalisir manakala demonstran berpatok serta patuh pada undang-undang (UU) yang ada. Undang-undang itu tercantum pada UU Nomor 9 tahun 1998 yang isinya mengatur tentang kemerdekaan menyampaikan pendapat di muka umum. Dalam pasal-pasalnya juga diatur akan hak dan kewajiban dalam demonstrasi, seperti tertuang dalam Pasal 5 dan 6.

Nah, demonstrasi adalah sah di depan hukum, asal dilandasi dengan tanggungjawab dan berpedoman atas UU atau peraturan yang berlaku. Demonstrasi bukanlah tindakan terlarang!

Demonstrasi dalam Demokrasi

Indonesia adalah negara yang (katanya) demokrastis. Negara demokratis yang berarti berkekuatan dari, oleh dan untuk rakyat.  Suara rakyat adalah suara Tuhan (vox populi vox dei). Peran partisipatif rakyat (termasuk mahasiswa) sangat diperlukan dalam rangka proses menuju kehidupan negara demokratis. Partisipasi rakyat, dapat berupa mengeluarkan pendapat atau protes. Prof.Amien Rais memaparkan bahwa ada sepuluh kriteria demokrasi. Dari sepuluh kriteria itu, salah satunya adalah hak untuk protes.

Pendapat lain, menurut Said Aqiel Siradj ketua Pengurus Besar Nadhalatul Ulama (PBNU), dalam iklim demokrasi, pilihan demonstrasi adalah wajar. Bahkan bisa menjadi pilihan satu-satunya untuk mengungkapkan aspirasi yang tersumbat oleh sistem maupun mentalitas. Karenanya, tidak ada jaminan bahwa demonstrasi akan hilang dengan sendirinya manakala sistem telah ditata sedemikian rupa. Sebab, tarik menarik kepentingan -betapapun idealnya kepentingan itu- akan selalu menghiasi kehidupan berbangsa dan bernegara. Demonstrasi bisa menjadi check and balance terhadap kekuasaan agar tidak terjadi ketimpangan yang menajam (dikutip dari www.ham.go.id).

Oleh karena itu, ketika ketimpangan kekuasaan terjadi, seyogyanya gerakan mahasiswa berperan sebagai “alarm”. Alarm ini berfungsi untuk mengingatkan pihak-pihak yang telah menimbulkan ketimpangan kekuasaan agar segera bangun. Alarm ini akan berdering manakala pihak-pihak yang menimbulkan ketimpangan ini telah terlelap dan menikmati alam mimpi indah yang bernama kekuasaan. Deringan alarm ini juga berdering seiring rakyat dan mahasiswa tersadar dari mimpi buruk!

Yodie Hardiyan

Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s