Rentenir: Pilihan Meminjam atau Tidak

Posted: Oktober 24, 2010 in Opini

Berbicara tentang pinjaman atau kredit, tentunya tidak lepas dari bank dan lembaga keuangan yang menyediakan jasa tersebut. Dalam parakteknya lembaga keuangan dibagi menjadi 2, yaitu bank dan lembaga keuangan non bank. Bank dan lembaga keuangan non bank merupakan pelaku terpenting dalam perekonomian sebuah negara. Baik masyarakat, kalangan usaha, dan industri membutuhkan jasa pinjaman dari bank dan lembaga keuangan, untuk mendukung dan memperlancar aktivitasnya sebagai lembaga mediasi antara pihak yang memiliki dana dan yang membutuhkan dana.

Dalam hal ini, pernahkah kita mengkaji rentenir sebagai lembaga yang perannya hampir sama dengan bank dan lembaga keuangan non bank? Pekerjaan sebagai rentenir dianggap suatu pekerjaan yang tabu, tidak terhomat dan hina baik dari sudut pandang agama maupun komunitas sosial dimasyarakat. Rentenir adalah suatu istilah bahasa Inggris yang telah diadopsi kedalam bahasa Indonesia. Rentenir berasal dari kata “rente” yang artinya bunga atau riba . Dengan demikian rentenir adalah tukang riba, atau seseorang yang pekerjaannya mengumpulkan bunga pinjaman. Baik sebagai pengusaha lembaga rente ataupun pegawai di lembaga rente bisa dinamakan dengan rentenir.

Profesi sebagai rentenir adalah suatu jenis pekerjaan yang sesungguhnya tidak jauh berbeda dengan bank dan lembaga keuangan non bank yang bergerak dibidang jasa pelayanan simpan pinjam uang. Sebagai contoh lembaga tersebut seperti Penggadaian, Koperasi Simpan Pinjam (KSP), Bank Perkreditan Rakyat (BPR) dan Bank Umum. Perbedaannya terletak di statusnya dimana rentenir adalah wiraswasta yang tidak berbadan hukum, yang mengolah usahanya sendiri, dengan kebijakan dan peraturan sendiri. Sementara Penggadaian, KSP, BPR dan Bank Umum adalah suatu institusi berbadan hukum dengan peraturan dan kebijakannya disesuaikan pada ketentuan-ketentuan dan ketetapan-ketetapan pemerintah atau lembaga ekonomi lainnya.

Keunggulan rentenir dapat dilihat dari proses peminjamannya. Pinjaman yang dikeluarkan oleh rentenir lebih mudah, cepat dan tidak perlu agunan (didasarkan rasa saling percaya). Peminjam yang baru biasanya diperlakukan dengan sangat baik, selanjutnya disesuaikan dengan prilaku dari masing-masing peminjam. Jumlah besar dan kecilnya pinjaman tidak dibatasi, tergantung kepada kemampuan pemberi pinjaman demikian juga kebutuhan peminjam. Peminjam tidak perlu repot mendatangi pemberi pinjaman untuk membayar cicilan pinjaman atau sekedar bunga pinjaman, karena biasanya pemberi pinjamanlah yang mendatangi para peminjam uang bahkan ke kios atau ke rumah mereka.

Adapun rentenir memiliki kekurangan dimana hal ini yang dapat membuat peminjam mengeluh, bahkan kabur dari tanggung jawabnya. Bunganya terlalu besar, biasanya rentenir menetapkan bunga dengan interval 10% sampai dengan 30 %. Sementara kalau dibandingkan pinjaman dari Penggadaian, Koperasi Simpan Pinjam, BPR dan Bank Umun, yang mana kisaran bunganya tidak lebih dari 10% sampai dengan 15% (berptokan pada suku bunga acuan Bank Indonesia) atau bahkan hanya 3% sampai dengan 4 % dalam menetapkan bunga. Penagihan pinjaman dilakukan dengan tindakan sewenang-wenang kepada nasabah yang mulai telat dalam membayar cicilan. Karena tidak ada jaminan atau agunannya, banyak nasabah yang akhirnya melarikan diri, karena tidak sanggub membayar. Biasanya rentenir memiliki tukang pukul untuk mengejar nasabah yang melarikan diri dari tanggung jawabnya.

Inilah realita dari rentenir, tidak disukai, namun banyak juga masyarakat yang membutuhkannya. Dengan proses peminjaman yang begitu mudah dan nominal uang yang bisa disesuaikan dengan kebutuhan, sebagian masyarakat lebih memilih meminjan kepada rentenir. Terkadang peminjaman dilakukan dengan kondisi terdesak, mendadak dan harus hari itu juga ada uang. Peminjam yang mengandalkan rentenir sebenarnya telah menyadari resiko, yang nantinya akan ditanggung. Jadi, berpikirlah kembali untuk meminjam uang kepada rentenir, kalau sudah mengetahui tidak mampu melunasi lebih baik urungkan niat untuk meminjam.

Oleh: Irinues Sukma Anggara

 

About these ads
Komentar
  1. mahdi mengatakan:

    di ringkas dong pembahasannya

Berikan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s