Pers Mahasiswa, Ruang Publik dan Magistrorum et Scholarium

Beberapa waktu belakangan ini, pers mahasiswa di UKSW dalam amatan saya sedang masuk pada sebuah era baru, yang sementara mencoba kembali bangkit dan eksis. Hal ini paling tidak, dapat ditandai secara sepihak misalnya dengan rilisnya E-Time versi cetak. Kemudian ada juga Scientiarum yang masuk pada format majalah, dengan lebih dahulu disertai edisi online yang cukup elegan. Adapun Scientiarum, menurut saya mengalami kemajuan cukup pesat semenjak ia mulai dari berbentuk koran.

Pers atau katakanlah media massa semacam Scientiarum dan E-Time, pada satu bagian berkontribusi dalam sebuah spektrum yang biasa dikenal sebagai ruang publik (public sphere).

Ruang publik di sini dipahami sebagai sebuah domain dimana segala sesuatu yang terkait dengan opini publik dapat dibentuk. Akses terhadap ruang publik ini secara prinsipil diandaikan terbuka bagi seluruh pihak. Ini penting karena dalam ruang publik masing-masing pihak yang terlibat menjadi satu untuk membentuk gagasan-gagasan yang bersifat publik. Dengan demikian pihak yang ada dalam ruang publik adalah para warga yang berurusan dengan persoalan-persoalan yang umumnya dihadapi secara bersama-sama.

Ketika yang publik ini semakin besar maka diperlukanlah wahana yang juga dapat menjangkau publik yang lebih luas, dalam hal ini koran, majalah, radio, televisi, adalah media dari ruang publik. Singkatnya, pers atau media massa adalah bagian dari ruang publik dan berkontribusi secara aktif di dalamnya.

Dalam ruang publik, kebebasan berbicara, berpendapat, dan berpartisipasi dalam perdebatan soal-soal yang menyangkut beragam aspek kehidupan bersama dijunjung tinggi. Kepublikan yang terjadi di dalam ruang publik dengan sendirinya mengandung daya kritis terhadap proses pengambilan keputusan serta tema-tema lainnya yang bersinggungan dengan berbagai macam area terkait. Hal ini nampak misalnya pada setiap edisi Scientiarum dan E-Time yang senantiasa penuh dengan diskus-diskusi panjang mengikuti tema tulisan atau pun liputan yang dirilis.

Walau demikian, ruang publik bukan hanya terbatas pada pers atau media massa (baik yang maya dan non-maya) melainkan ia juga mencakup area-area di mana diskusi bebas dapat terjadi, pembahasan yang bersifat publik dapat dimungkinkan. Karena sejatinya ruang publik adalah ruang sosial yang diproduksi oleh tindakan komunikatif, dimana para person terlibat dalam deliberasi dialogis mengenai isu-isu publik. Dengan demikian ini tentunya berbicara area-area seperti kafe, tempat nongkrong, kelompok diskusi atau debat, dan organisasi.

Dalam hemat saya, keseimbangan antara berbagai macam model ruang publik perlu mendapat perhatian dari segenap sivitas akademika. Pertanyaannya sekarang apakah selain pers mahasiswa, jurnal, buletin, dan media sejenis lainnya, ruang publik sudah benar-benar dimaksimalkan?

Mari kita tengok tempat semacam kafe dalam kampus, sudahkah ia menjadi wahana untuk berdiskusi atau hanya terbatas pada ritus-ritus perekonomian dan pemuas lapar serta dahaga belaka? “Lah itu kan memang tempatnya kafe,” demikian jawab sebagian orang.

Kalau begitu, pertanyaan saya, di mana tempat sivitas akademika dapat berbaur dalam kampus tanpa terganggu dengan ritus-ritus tersebut tetapi tetap dapat masuk dalam debat dan diskusi secara terbuka?

Amatan saya, dalam area kampus masih minim tempat-tempat publik yang terbuka untuk memfasilitasi model ruang publik. Tak heran jika mahasiswa kemudian enggan untuk berlama-lama di kampus karena memang tidak ada ruang di mana mereka melepaskan diri dalam kepublikan. Seorang mahasiswa pernah bertanya pada saya, bagaimana mahasiswa dapat dipacu untuk terlibat dalam alur membaca-diskusi-dan menulis? Bisa jadi salah satu jawabannya adalah dengan memfasilitasi ruang-ruang publik dalam kampus .

Saya kira ini menjadi salah satu pekerjaan bersama dari segenap sivitas akademika untuk memfasilitasi ruang publik di dalam kampus secara lebih signifikan. Kebangkitan pers mahasiswa saya kira bisa dijadikan sebagai salah satu pendorong guna menggerakan ruang-ruang publik yang lainnya. Saya kira dengan demikian kita juga turut menjadikan universitas sebagai magistrorum et scholarium. Sebuah organisasi pendidikan sekaligus sebagai komunitas ilmiah yang mengedukasi dan membawa pencerahan.

Yesaya Sandang
Staf Pengajar Filsafat

Komentar bertahan »

Penyair Mati


Judul: Dead Poets Society

Sutradara: Peter Weir

Pemain: Robin Williams, Robert Sean Leonard, Ethan Hawke, Josh Charles, Gale Hansen, Dylan Kussman, Allelon Ruggiero, James Waterston, Norman Lloyd, Alexandra Powers

Durasi: 128 Menit.

Rilis: 2 Juni 1989, Amerika Serikat.
____________________________________________________________________________________

Dead Poets Society (Kumpulan Penyair Mati). Ini film lama. Tahun 1989. Namun film ini terasa masih relevan bila dikaitkan makna pendidikan Indonesia khususnya, dewasa ini. Yang belum berhasil menuntaskan pelbagai krisis multi-dimensi.

Film ini telah dinovelkan N.H Kleinbaum. Berkisah tentang seorang guru, yang “tidak wajar”, pemikiran maupun cara mengajar. Guru yang mengajak siswa memahami bahwa pendidikan adalah pembelajaran berpikir untuk diri sendiri.

Guru itu John Keating (diperankan Robin Williams). Ia memperbolehkan siswa-siswa sekolah swasta Akademi Welton memanggilnya “O, Kapten! Kaptenku!” —yang dicuplik dari sajak Walt Whitman mengenai Abraham Lincoln.

Keating guru baru. Ia dulu lulusan Welton, yang suka diplesetkan jadi “Hell-ton”. Welton sekolah yang tidak memiliki siswi perempuan. Para orangtua bangga menyekolahkan anaknya di Welton —sekolah yang konservatif dan aristokratik—. 75% lulusannya tembus Perguruan Tinggi Ivy.

Adalah Neil Perry (Robert Sean Leonard), Todd Anderson (Ethan Hawke), Knox Overstreet (Josh Charles), Charlie Dalton (Gale Hansen), Richard Cameron (Dylan Kussman), Steven Meeks (Allelon Ruggiero) dan Gerard Pitts (James Waterston) “terpesona” dengan Keating. Pertemuan kelas pertamanya tidak di dalam kelas. Ia menggiring para siswa ke Ruang Kehormatan Welton. Di sana, Pitts disuruh membaca stanza pertama puisi inspiratif: tentang kehidupan. Berjudul “Pada Perawan yang Punya Banyak Waktu.”

Berkumpulah wahai kuntum bunga selagi bisa
Masa lalu masih ada:
Dan bunga ini yang tersenyum hari ini
Besok akan mati

Baris pertama dari puisi itu diistilahkan: Carpe Diem. Bahasa Latin, yang berarti “raihlah kesempatan”. “Seize the day,” kata Keating. Maknanya, Keating ingin anak didiknya mempunyai hari yang luar biasa. Karena manusia hanya hidup sekali di dunia. Kelak bakal jadi makanan cacing. Mati.

Keating bertindak aneh, sangat aneh. Di kelas, bahkan ia menyuruh para siswa untuk merobek buku teks puisi bagian halaman pengantar! Gara-gara dianggapnya “omong kosong”. Glek! Lucu juga ya, bila kita berimajinasi akan adanya dosen di fakultas ekonomi di Indonesia yang menyuruh mahasiswa merobek halaman buku ekonomi bagian neo-klasik.

Pada suatu pertemuan, Keating mengajar dengan gaya nyentrik. Ia berdiri di atas meja. Ya, meja, seorang guru berdiri di atas meja! Tentu ini diluar kebiasaan kolektif —meminjam apa kata W.S Rendra pada esai “Melawan Mesin” (1968).

Saya rasa, film yang naskahnya ditulis Tom Schulman ini, mengajak penonton untuk bisa berpikir (bahkan bertindak) di luar batas kebiasaan, kelaziman. Out of the box. Sebuah contoh sederhana, naik ke atas meja. Yang dilakukan seorang pendidik: tak menutup kemungkinan akan mengundang kontroversi. Apalagi di Indonesia. Dicap melanggar kesopanan atau etika.

Namun, suatu tindakan mengandung alasan, argumen. Alasan ini yang perlu dipertanggungjawabkan, didiskusikan dan dipertanyakan, yang jadi rahim sebab lahirnya akibat.

Imajinasikan saja, iseng, seorang dosen naik ke atas meja. Pasti akan tidak lazim. Namun, masing-masing manusia punya kepribadian berbeda. Kepribadian berbeda dengan kebiasaan kolektif.

Keating bertindak, dengan alasan. Keating tidak hanya cukup mempetanggungjawabkan perbuatannya menurut kebiasaan kolektif. Tapi ukuran dan tanggungjawab pribadi.

“Kenapa aku naik ke meja ini?” tanya Keating kepada para siswa.

“Agar merasa lebih tinggi,” celetuk Charlie, salah seorang siswanya.

Tidak, jawab guru eksentrik itu. Keating naik meja untuk mengingatkan dirinya sendiri, untuk terus menerus melihat keadaan dengan cara berbeda.

“Dunia tampak berbeda dari atas sini,” ucap Keating, setelah berputar sebentar di atas mejanya, “Tidak percaya?” Ia lantas mengajak siswa-siswanya untuk bergiliran naik ke atas meja guru. Agar bisa berpikir berbeda, juga bebas. Alamak, sedap nian!

“Jika kalian tahu sesuatu lihatlah dengan cara lain. Meski itu tampak konyol atau salah, kalian harus mencoba. Jangan hanya mempertimbangkan apa yang dipikir penulisnya. Pertimbangkan apa yang kalian pikir. Berjuang untuk menemukan diri kalian sendiri. Semakin lama kalian menunggu, semakin kecil kemungkinannya kalian akan menemukan,” ujar Keating.

Keating membawa suasana berbeda di kelas. Belajar jadi menyenangkan. Riang. Tawa berderai-derai keluar dari mulut murid ketika guru yang ketika sekolah menyukai “paha wanita” itu, membacakan cerita.

Guru itu punya daya pikat tersendiri bagi para siswa. Neil menemukan buku kenangan saat Keating sekolah. Dan membaca catatan, dulu Keating ikut Dead Poets Society (DPS). Apa itu?

DPS adalah perkumpulan yang dibuat untuk “menghisap sumsum kehidupan”. Kegiatannya membaca puisi di gua di tengah hutan. Neil terinspirasi untuk menghidupkan kembali perkumpulan itu.

Aku masuk ke hutan untuk hidup dengan sengaja
Untuk menghisap semua sumsum kehidupan
Untuk mengusir semua yang tidak hidup
Dan jika tidak, jika mati aku tahu bahwa aku tak pernah hidup

Neil mengajak teman-temannya. Awalnya ada yang menolak. Namun Neil berhasil. Sekelompok siswa berumur tujuh belasan, malam-malam menyusuri hutan pergi ke gua. Tanpa sepengetahuan pihak sekolah. Mereka ingin menghisap sumsum kehidupan.

Dengan puisi, mereka mengekspresikan diri sendiri. Bahkan Knox Overstreet, sempat “nekat” datang ke sekolah perempuan pujaannya bernama Chris —hingga membacakan puisi di depan kelas. Ia ingin mengisap sumsum Chris, yang dijatuhcintai Knox. Meski Chris sudah punya cowok.

Tragis

Neil menemukan apa yang ingin dilakukannya. Sebuah keinginan, hasrat. Neil ingin jadi pemain drama. Berakting. Ia ikut audisi pementasan A Midsummer Night’s Dream, karya William Shakespeare.

Sayang, harapan pribadi belum tentu diterima semua orang. Ada kontradiksi. Ayahnya tak mengizinkan. Ayah ingin Neil keluar dari drama itu, sesegera mungkin. Tapi Neil tidak peduli. Karena inilah saat ia menemukan “dirinya sendiri”. Ia jadi manusia bebas: menentukan jalannya sendiri. Cukup eksistensialis.

“Untuk pertama kalinya, aku tahu apa yang harus aku lakukan, dan aku akan melakukannya meski ayahku melarang! Carpe Diem!” ujar Neil, pada Todd.

Neil lolos audisi. Peran “Puck” didapatnya. Senangnya bukan main. Namun, pihak penyelenggara sandiwara butuh surat izin dari ayah Neil dan Nolan, petinggi Welton. Neil nekat. Ia buat surat palsu itu. Daripada tidak dapat izin, barangkali. Carpe diem!

Saat manggung, ia berakting apik. Musnah semua keraguan anggota DPS mengenai akting Neil. Ia mendapat aplaus luar biasa dari penonton. Kecuali, seorang. Ayahnya.

Ayah Neil berdiri kaku di belakang kursi penonton. Matanya menyorot tak senang. Ia menjemput Neil pulang ke rumah. Dan akan menghakiminya.

“Kami bersikeras untuk memahami mengapa kau bersikeras untuk menentang kami. Tapi apa pun alasannya, kami takkan membiarkanmu merusak hidupmu. Besok kau akan keluar dari Welton dan masuk ke Sekolah Militer. Kau akan masuk ke Harvard dan menjadi seorang dokter,” kata ayah Neil.

Sang ayah sangat tak suka Neil ikut drama. Neil tak habis pikir, keputusan ayah yang akan memindahkan sekolahnya. Itu akan berlangsung sepuluh tahun.

Saat ayah ibu Neil terlelap, Neil mengambil sesuatu dari kamar orangtua. “Sesuatu” itu adalah pistol. Keputusan hidup tanpa kesepakatan dengan sang anak itu harus dibayar mahal. Neil menembak dirinya sendiri. Mati.

Welton geger. Pihak sekolah mengusut kasus yang mencoreng nama baik. John Keating dituding biang kerok —guru yang mengajarkan berpikir bebas dan anti keseragaman itu.

Dalam DPS terjadi konflik internal. Cameron mengungkapkan berbagai hal kepada pihak sekolah. Charlie marah. Ia sampai memukul Cameron. Cameron juga memberitahu, pihak sekolah mengkambinghitamkan Keating atas kematian Neil.

“Itu tidak benar!” jerit Todd, teman sekamar Neil. “Pak Keating tidak mendorong kita. Neil memang suka akting.”

Anggota DPS diusut, dan dipaksa menandatangani surat mengenai John Keating. Guru itu dikeluarkan. Charlie juga di-drop out.

Akhir film, adegan dramatis disuguhkan kepada penonton. Saat Keating mengemasi barang-barangnya dari dalam kelas dan akan meninggalkan sekolah: anggota DPS dan siswa lainnya memberi penghormatan terakhir kepada guru yang mengajarkan siswa jadi pemikir bebas itu. Siswa-siswa itu memasang raut wajah, seperti bangga. Juga sedih akan kehilangan. “O, Kapten! Kaptenku!”

Penghormatan itu memperlihatkan cinta anak didik kepada gurunya.

Mereka berdiri di atas meja.

Yodie Hardiyan

Komentar bertahan »

Jadi Entrepreneur Harus Memiliki Semangat

Fakultas Ekonomi Universitas Kristen Satya Wacana mengadakan seminar “Being Entreprenuer Mandiri  of TheYear 2009” Rabu, 3 Desember 2008. Diadakan di Balairung Universitas, seminar ini merupakan rangkaian acara Dies Natalis FE ke-49.

Pembicaranya, Sudhamek AWS, Andrie Wongso dan Kafi Kurnia yang merupakan pakar di bidangnya.

Sudhamek yang lulusan FE tahun 1981, adalah entrepreneur yang menerima penghargaan “Entrepreneur of The Year 2004” dari Ernst & Young (penghargaan bagi wirausahawan nasional).

Sudhamek menyampaikan, jadi seorang entrepreneur sejati harus pintar melihat dan mencari peluang usaha, berani memanfaatkan peluang dan tidak kenal menyerah.

Pria yang merupakan Chief Executive Officer Garuda Food ini juga menceritakan masa-masa kuliah. Saat kuliah di Satya Wacana, ia melakukan usaha dengan memasarkan produk kacang buatan keluarga, yang jadi cikal bakal perusahaan Garuda Food.

“Selagi masih kuliah siapkan diri kita sebagai mahasiswa untuk terjun di dunia bisnis yang sesungguhnya, karena di dunia bisnis yang sesungguhnya, kita tidak punya lagi kesempatan untuk mempersiapkan diri,” pesan Sudhamek kepada mahasiswa.

Pembicara selanjutnya adalah seorang motivator kondang dan dijuluki sebagai motivator nomor satu Indonesia, Andrie Wongso. Pria kelahiran Malang, Jawa Timur tahun 1954 ini merupakan anak dari keluarga yang miskin.

Dengan semangat ia membagikan cerita masa kecilnya -yang tumbuh dalam himpitan ekonomi dan berjuang mencapai sukses- Andrie Wongso membuat peserta seminar terkagum-kagum akan kisah hidupnya

Andrie Wongso menyampaikan, jadi seorang entrepreneur harus memiliki semangat, motivasi dan tekad kuat mencapai target yang ingin diraih, yang digambarkannya seperti percikan api dalam busi kendaraan. Tanpa percikan api busi, kendaraan bermotor tak akan bisa berjalan

“Hidup itu harus diatasi, dihadapi, ditahan dan jangan gampang mengeluh,” kata Andrie Wongso, menutup sesi..

Sesi terakhir diisi Kafi Kurnia, seorang konsultan marketing, praktisi, kolumnis, trainer dan motivator handal. Ujarnya, jadi entrepreneur, harus mengubah attitude (berupa sikap-sikap yang kurang baik).

“Kamu dilahirkan untuk menjadi pemenang, menjadi pemenang harus plan to win, prepare to win, and expert to win,“ kata mutiara dalam seminar sebagai penutup.

Andrew Prasetyo Aji

Komentar bertahan »