Economics Goes to ‘da World

Posted: Oktober 18, 2011 in Liputan

Tidak lama ini Fakultas Ekonomika dan Bisnis (FEB) Universitas Kristen Satya Wacana (UKSW) Salatiga mengadakan serangkaian acara penyambutan bagi mahasiswa baru 2011. Rangkaian acara ini meliputi Pengenalan LK FEB, Malam Keakraban (Makrab), dan Talent Show dari mahasiswa baru.

Serangkaian acara ini bertujuan memberikan jembatan kepada mahasiswa baru untuk mengenal lebih dalam lagi Fakultas Ekonomika dan Bisnis, dan juga untuk menjalin keakraban antar mahasiswa baru. Selain itu, dengan diadakannya acara ini diharapkan para peserta dapat terdidik untuk bisa goes to international dengan cara bersosialisasi dan menjadi pribadi yang disiplin. Hal tersebut dapat dilihat dari pemilihan nama Makrab tahun ini, yaitu “Economics Goes to ‘da World (E-GOAL)”.

Pengenalan Lembaga Kemahasiswaan (LK) FEB dilaksanakan pada tanggal 10 September 2011 dari pagi pukul 07.00 WIB hingga sore pukul 15.00 WIB. Dalam acara ini, para mahasiswa baru diajak tour keliling kampus oleh para wali mereka untuk mengunjungi stand-stand dari unit-unit LK FEB. Di stand tersebut mahasiswa dikenalkan dengan unit LK yang bersangkutan oleh para fungsionaris unit tersebut. Selain itu, mahasiswa baru juga dapat langsung mendaftarkan diri untuk bergabung dengan unit-unit LK yang diminatinya.

Rangkaian acara yang kedua adalah Malam Keakraban (Makrab). Makrab dilaksanakan pada tanggal 24-25 September 2011 yang bertempat di Bumi Perkemahan Pantaran, Ampel, Boyolali. Makrab tahun ini berkonsep sepak bola, untuk menyesuaikan dengan nama acaranya, yakni E-GOAL. Mulai dari nama kelompok yang diambil dari nama-nama klub sepak bola, sampai atribut peserta yang serba sepak bola.

Peserta berangkat menuju lokasi acara dari kampus UKSW pada hari Sabtu pagi. Sebelum berangkat ke Pantaran, acara dibuka dengan sambutan dari Bapak Eranus Yoga Kundhani selaku Koordinator Bidang Kemahasiswaan (Koorbidkem) FEB UKSW. Sesampainya di Pantaran, para panitia memeriksa barang bawaan peserta, setelah itu para peserta diperbolehkan untuk mendirikan tenda. Setelah tenda berdiri, para peserta diberikan waktu istirahat dan memasak untuk makan siang.

Hari pertama sudah dimulai dengan banyak kegiatan acara. Siang harinya, acara dilanjutkan dengan kampanye dari beberapa calon ketua angkatan 2011, pemilihan ketua angkatan 2011, dan fun games.  Pada malam harinya diadakan acara api unggun.

Pada hari kedua, acara dimulai dengan outbound dari tim PMI. Setelah acara outbound selesai, peserta diberikan waktu untuk mengemasi tenda dan barang-barangnya untuk bersiap-siap kembali ke kampus. Setelah makan siang, peserta dipulangkan ke Salatiga dan diturunkan di Lapangan Polres dan kemudian melakukan long march menuju kampus UKSW dengan menyanyikan yel-yel E-Goal dan Mars FEB.

Sesampainya di kampus, acara dilanjutkan dengan pengumuman dan pelantikan ketua angkatan 2011, dan terpilihlah Mesakh Yolando sebagai ketua angkatan 2011. Setelah itu, acara kemudian dilanjutkan dengan penyematan pin dan penyiraman air kembang kepada para peserta sebagai tanda bahwa para peserta sudah resmi dianggap sebagai keluarga besar Fakultas Ekonomika dan Bisnis UKSW.

Acara makrab selesai pada pukul 16.00 WIB. Setelah itu para peserta diberikan jeda waktu satu minggu untuk mempersiapkan talent show mereka yang dilaksanan pada tanggal 1 Oktober 2011 di Balairung Utama (BU) UKSW.

Talent Show merupakan acara pertunjukkan kreatifitas dari para mahasiswa baru, antara lain: Boysband vs Girlsband, parodi iklan, lipsync India, OVJ, video clip, Dubbing Time, The Promotor, Pom-Pom Boys, musik kreatif, sinden gosip, parodi Magician, dan Masquerade. Di sini tiap kelompok peserta dikolaborasikan dengan kelompok peserta lainnya untuk memberikan pertunjukkan yang kemudian dinilai oleh para juri yang terdiri dari Koorbidkem, ketua acara E-GOAL, dan salah satu perwakilan seksi acara.

Acara Talent Show dimulai pada pukul 13.00 WIB dan dibuka dengan sambutan dari Bapak Yafet Y.W Rissy, SH, M.Si., LLM selaku Pembatu Rektor III UKSW. Selain itu acara Talent Show juga diisi dengan pemberian awards kepada para panitia E-GOAL.

Acara Talent Show selesai sekitar pukul 19.00 WIB dan ditutup oleh penampilan dari grup musik ORB (Orkes Ra Bayaran) Gereh Layur dimana personilnya adalah para mahasiswa FEB angkatan 2009. Dengan ditutupnya acara Talent Show, sekaligus menutup rangkaian acara E-GOAL, dan para peserta sudah resmi dianggap sebagai keluarga besar FEB UKSW. Well, congrats to ya all guys! Welcome to the jungle. Cheers!

Talent Show Results (Winner) :

  1. AS Roma & Valencia (Lipsync India)
  2. Chelsea & Juventus (Video Clip)
  3. Sevilla & Inter Milan (Parodi Iklan)

Panitia Awards Results :

  1. Panitia of The Year : Papua
  2. Panitia Terganteng : Weda
  3. Panitia Tercantik : Trefi
  4. Panitia Terbaik : Anton
  5. Panitia Teramah : Gabby
  6. Panitia Tergalak : Trefi
  7. Panitia Tergokil : Papua
  8. Panitia Teraneh : Joko
Andaru Dwika Yanuar

“The Nicest Place to Study” ?

Posted: April 26, 2011 in Opini

FEB UKSW memasang papan iklan “The Nicest Place to Study” di Jalan Diponegoro (depan SMP Pangudi Luhur), Jalan Adisucipto (depan rumah makan Lentera) dan Jalan Kartini (depan SMAN 3) Salatiga.

Teks kalimat tersebut jika diterjemahkan secara bebas atau berdasarkan kamus susunan Echols dan Shadily (2000) berarti “tempat paling baik untuk belajar”. Atau dapat juga berarti “tempat paling menyenangkan untuk belajar”.  Mari kita bedah bahasa iklan perguruan tinggi ini. Kita ajukan sejumlah pertanyaan, tentu saja bukan untuk membuktikan apakah FEB benar hebat atau tidak.

Pertama, tempat yang paling nice di mana? Di Salatiga, Jawa Tengah, Indonesia bagian Barat, Asia Tenggara atau Jagat Raya? Kedua, tempat yang paling nice dalam bidang atau hal apa? Dalam bidang kegiatan kemahasiswaan yang pakai kartu poin, penghapusan mata-kuliah Filsafat, akses registrasi matakuliah yang lemot, gaftar alir matakuliah yang tak pernah tertaati? Ketiga, tempat yang paling nice kapan dan sejak kapan? 1956, 1988, 1995, 2006 atau 2010? Keempat, apa sih indikatornya sehingga FEB didaku oleh sang pembuat iklan sebagai the nicest place to study?


Pertanyaan-pertanyaan di atas sesungguhnya berhulu dari pertanyaan: ada nggak penelitian atau survei yang hasilnya menunjukkan bahwa FEB UKSW sebagai the nicest place to study? Jika ada, kenapa tidak dicantumkan sebagai ”legitimator” dan jika tidak ada, kenapa ditulis seperti itu?

Teks iklan FEB itu mengandung kata superlatif yaitu the nicest. Dalam bahasa Indonesia, kata superlatif biasanya ditunjukan oleh penggunaan kata “paling” atau awalan “ter” yang bermakna superioritas (terkeren, tergagah, paling hebat, paling jago), tingkat perbandingan (terbaik, paling kaya), atau posisi pemeringkatan (tercepat). Dalam bahasa Inggris contohnya nicest, hardest, best atau most beautiful.

Kesuperlatifan bisa lahir jika telah melewati proses pembandingan. Pemirsa bertanya-tanya. Yang pasti, dakuan the nicest place tidak tepat jika dasarnya merujuk kepada kampus yang rindang, sarat pepohonan dan terletak di kota sejuk.

Salatiga memang tidak terbantahkan sebagai kota yang adem dibandingkan Jakarta atau Semarang misalnya. Namun tunggu dulu untuk ukuran kehijauan kampus atau kebijakan lingkungan (environment policy). UKSW tidak masuk “daftar”.

Baru-baru ini Universitas Indonesia membuat pemeringkatan perguruan tinggi dunia berdasarkan indikator seperti kehijauan, tata-kelola sampah, energi dan perubahan iklim, penggunaan air atau fasilitas kendaraan. Pemeringkatan ini bernama UI Green Metrik. Hasilnya, kampus yang paling baik kebijakan lingkungannya di seluruh dunia adalah University of Berkeley di Amerika Serikat. Yang paling baik di Indonesia? Universitas Indonesia. Di Jawa Tengah? Universitas Negeri Semarang.

Dari 95 perguruan tinggi seluruh dunia yang diperingkatkan UI Green Metrik, UKSW tidak tercatat.  Pemeringkatan UI Green Metrik memang masih berusia muda. Metodologinya terbuka untuk diberi masukan. Suatu saat pasti ada revisi. UKSW kelak mungkin bisa nongol juga entah peringkat berapa.

Pada kurun Januari-Mei 2009, menurut Badan Pengawas Periklanan (BPP), pelanggaran EPI didominasi penggunaan bahasa superlatif tanpa dukungan ”fakta-fakta yang obyektif”. Bahasa superlatif bukannya dilarang. Namun ia perlu didukung ”dasar” serta dapat dibuktikan pernyataan tertulis dari otoritas terkait. ”Idealnya,” tulis Ridwan Handoyo.

Kita yakin FEB tidak bermaksud membodohi konsumen atau publik yang kebetulan melihat iklan berbahasa Inggris yang dipajang di jalan kota Jawa tersebut.

Kita juga bisa merenungi iklan FEB ini dari sudut pandang bahasa. Alinea penutup artikel “Superlativisme” karangan Kurnia JR di majalah Tempo 22 Mei 2006 bisa kita jadikan bahan renungan: Dalam berbahasa kita bebas. Sekalipun demikian, tetaplah baik menahan diri, supaya sihir kata tidak lindap. Agar tak pudar ketakziman pada yang sungguh-sungguh besar.

Yodie Hardiyan

SENDAWA TAK BERMAKNA

Posted: April 26, 2011 in Tidak terkategori

Sore ini benar-benar kelabu, kelelahan telah merasuk dengan sempurna di dalam tubuhku, meski sebenarnya tak banyak yang aku lakukan seharian ini. Kegiatan mingguan yang aku lakukan hanya menemui pengajar untuk mengkonsultasikan tugas akhirku. Setelahnya hanya bermain bersama teman-teman dan berdiskusi beberapa hal. Sudah lama kami tidak berkumpul bersama seperti ini. Maklum, sebagian telah menyelesaikan belajarnya di perguruan alam semesta, fakultas pencarian kehidupan. Mereka bercerita tentang pengalaman baru di dunia barunya masing-masing. Sedangkan aku hanya seorang mahasiswa yang terlalu lama berkutat untuk menyelesaikan tugas akhirku.

Tubuh yang mulai lemas ini aku bawa untuk pulang mungkin dengan sedkit istirahat dan mandi akan mengembalikan kesegranku kembali. Tak lama aku telah sampai di kamar rumah pohonku yang kecil namun cukup nyaman bagiku.

Tak beberapa lama aku telah berhasil memejamkan mataku, sekarang harus di paksa terbuka kembali karena terkaget oleh bunyi yang berasal dari jendela yang terbuka. Sayup-sayup aku dengar suara memenggilku dari luar.

“eh, kamu ngagetin aja ci.” Betapa kagetnya aku ketika si kelinci adik angkatanku itu tiba-tiba sudah berada di depanku. “Ayo masuk,” kupersilakan dia masuk dan kubuatkan secangkir kopi. Dia tampak heran dan kaget dengan apa yang telah aku lakukan, ini memang tak biasa aku lakukan pada teman-temanku apa lagi adik angkatan seperti dia.

“terima kasih kak” dia masih belum percaya sampai dia pegang sendiri gelasnya.

“ya sama-sama. Ada perlu apa kamu kelihatanya begitu penting hingga datang kemari” cukup basa-basinya aku langsug ke pokok persoalan.

“bagaimana ya kak, aku sendiri bingung memulai dari mana” tampak wajahnya yang serius

“ ya pelan-pelan saja. Ceritanya aku mulai membukanya.

“sepertinya perkumpulan murid masih membutuhkan kakak untuk membantu” kelinci begitu hati-hati membicarakanya. Tak biasanya dia begitu hati-hati membicarakan tentang organisasi dengan ku.

“aku tidak bisa ci, Aku sudah lelah dengan segala perkumpulan murid.” Aku langsung melontarkan kritik pertamaku.

“kakak jenuh ?” kelinci mulai mengerti.

“apa yang aku lakukan selama ini telah habis. Yah ci, sebenarnya aku sudah lama muak dengan apa yang ada di perguruan ini. Tapi aku menyimpan keinginan yang untuk merubahnya tapi, ya begitualah aku bekerjasendiri tanpa ada teman yang bantu.”

“bentar kak aku semakin bingung dengan apa yang kakak katakan.” Kelinci mengerutkan dahinya tak mengerti apa yang aku bicarakan.

“ya sekarang perkumpulan murid kita tak jelas mau bergerak kemana. Seperti kapal yang di ombang-ambingkan ke sana-kemari. Begitu getol memprotes kebijakan para raja, mengawasi dengan mata tajam ketika terdapat kecurangan. Tapi pernahkah kita berkaca pada perkumpuln murid kita?” kelinci semakin bingung dengan perkataanku. “kamu perhatikan kecurangan-kecurangan yang sudah di lakukan oleh para murid. Apakah mereka pernah memprotes terhadap dirinnya sendiri?”

“oh aku mengerti kak.”

Tiba-tiba seseorang berdiri di depan kamarku yang tak tertutup. Tanpa berbasa-basi dia langsung masuk. Ternyata dialah kancil.

Tanpa basa-basi dia pun langsung mengambil air minum. Dia tak memperdulikan ada kelinci dan aku di dalam kamar.

“oh ada kamu to ci, piye kabarnya tu perkumpulan murid kita?”

“ya begitu kak, sudah tidak seperti dulu lagi. Waktu ada kakak-kakak di dalamnya.

“la memang apa masalahnya?” kancil bertanya dengan nadanya yang ringan.

“ya sekarang terlalu fokus pada dirinya sendiri kak.” kelinci menjawab ringan pula.

“oh, biasa itu. Kami juga sudah memprediksi sebelumnya. Lebih jauh lagi sakarang lebih mudah di kendalikan dari pihak luar kan? Oh ya kalian tadi membicarakan soal apa?”

“sekarang transfer nilai semakin tidak jelas. Mahasiswa sudah semakin pandai  untuk melakukan kecurangan”

“kecurangan seperti apa?”

“itu bukan rahasia umum, liat beberapa kegiatan. murid itu melakukan beberapa mark up.  Dana yang si ‘sisakan’” dengan mangangkat ke dua jari telunjuk dan jari manis baik kiri maupun kanan. itu masuk kemana juga tidak jelas,ada rumor itu untuk makan-makan panitia, ada juga isu yang berkembang bahwa itu untuk kegitan penutupan sebuah Unit dalam perkumpulan mahasiswa lagi.”

“tunggu-tunggu kenapa kamu bisa bilang itu kecurangan pada batasan mana kamu bilang begitu? Liat dari mananya? Bukankah dana yang di berikan hanya sedikit dan sisanya kita cari sendiri. Dana yang sisa yang kita kembalikan pun belum tentu ujungnya. Bisa aja masuk ke khas jurusan kita.” kancil menjawab.

“itu soal lain. Dan belum tentu kebenaranya. Apakah pernah di chek kebenaranya?” aku menyanggah.

“okay sekarang gini bukankah kamu pernah membuat proposal yang kamu buat membengkak?”kancil mencoba menyudutkan.

“ya tapi itu berbeda. Jika proposal itu pengajuan dan perencanaan. Kita tidak tau apa yang terjadi di kemudian hari. Dan bagaimana dana-dana tak terduga bisa muncul.”

“Bukankah itu sebuah kecurangan?” kancil kembali menyudutkan.

“Bukan itu. Jika saya boleh mengistilahkan adalah dana antisipasi. Jujur tidaknya atau curang tidaknya bakal terlihat di laporan pertanggung jawaban.”

“ya sekarang juga begitu kak. Kabarnya pemimpin, seseorang atau sekelompok orang perkumpulan murid kita pernah, bahkan sering melakukan kecurangan. Soalnya saya pernah di minta untuk menulis sebuah nota kosong.” Aku terbengong-bengong mendengar pernyataan kelinci.

“apa? Jika memang begitu bertambah bobroklah perkumpulan murid kita. Seorang pemimpin seharusnya menjadi contoh dan menjadi teladan. Wah memang sekarang krisis kepemimpinan terjadi lagi. Trus bagaimana kelangsungan bangsa ini jika murid perguruan sebagai penerus berlatih untuk berbuat curang? trus kamu mau?” kelinci menggeleng kapala aku menggeleng kepala.

“saya dengan tegas menolaknya. Bahkan dia dengan tanpa merasa bersalah menasehati saya bahwa prinsip saya terlalu kaku. Dan terlau sempit jika mempunyai prinsip seperti itu. Saya tidak mengindahkan kata-katanya karena buat saya itu tidak penting.” kelinci menjelaskan dengan menggebu.“ya bahkan lebih parah dia melindungi orang yang mengalami kecurangan. Pernah sebuah kegiatan yang di fonis curang bahkan kini di kaji ulang”

“Pertanyaanya bagaimana dengan yang mengalami kecurangan? Sekali lagi jika begitu jangan salahkan orang jika melakukan kecurangan. Tapi itu pun tidak benar jika membiarkan semua melakukan kecurangan mau jadi apa kampus kita ini?”

“jika itu saya tau, itu kan tidak semua yang bersalah. Para pimpinannya yang tak tau apa-apa terkena masalah itu jadi terkena fonis” kancil menjelaskan.

“bagaimana seorang pemimpin tidak tau. Bukankah itu tidak logis? Tampaknya itu adek-adekmu bukan?” aku memojokan.

“ya memangnya dulu kamu waktu jadi pemimpin tau semua hal? Bukankah itu hanya masalah-masalah strategis saja yang dia tau.”

“ya setidaknya mencari tau. Aku pun begitu. Tapi tentunya tanpa interfensi. ya silahkan saja bersiap mengalami degradasi nilai. Apalagi sekarang, sebagai wadah untuk aplikasi dari pengetahuan dan mendapatkan pengalaman praktis menjadi kecil. ” aku menyela.

“siapa bilang, ingat unit yang aku pimpin? Bukankah sudah ada transfer of knowldage dari praktisi ke murid?”kelinci menjawab.

“dalam bentuk apa, seminar? Pertanyaan kritisnya cukupkah itu memberikan pengalaman mahasiswa?”

“bukankah lembaga pendidikan merupakan wadah untuk transfer of knowledge? Mau seperti apa lagi?

“saya sedikit setuju dengan apa yang di paparkan kak kancil. Karena saya menjadi berfikir terbuka” kelinci mengintrupsi

“okay, aku tak pernah bilang jika seminarnya itu buruk. tapi begini, lihat di luar sana masih banyak  yang bisa di kerjakan, jika hanya sekedar seminar. Sedangkan menurut pendapat pribadiku seminar tak banyak menjawab pertanyaan yang muncul di masyarakat. Apalagi bagi murid hanya terpatok pada gedung dan ruang yang sempit. Coba lebih di arahkan untuk mengabdi pada masyrakat. Membawa mahasiswa untuk tau masalah-masalah riil di masyarakat dan menerapkan ilmu yang di dapat untuk membantu mereka.”

“betul kak. Tapi sebelum ke sana juga perlu bekal bukan. Ya mungkin di dalam seminar kita akan tau tentang sebuah aplikasi ilmu dari para ahli. ” kelinci memotong

“ya apakah pengetahuan yang di dapat tidak cukup untuk di aplikasikan ke dunia nyata?”

“ya saya pikir belum terlalu mampu untuk dibebani seberat itu” kancil menyela.

“mengapa engkau mennganggap rendah para murid? Lihat itu IPK yang diatas tiga. Bukankah itu sebuah indikator”

“wah belum tentu IPK itu mencerminkan kemampuan mahasiswa. Jika gambaran penguasaan materi dari segi teori mugkin mampu. Tapi jika praktis? Siapa yang tau?a spek yang lain bagaimana?”

“jika memang bigitu mengapa tak mengajak guru untuk bekerja sama? Jadikan mereka sebagai penasehat dan pengarah. Bukankah kita juga bisa menjawab masalah tentang  antara jurusan dan perkumpulan murid?”aku menjawab

“ya tapi tetap saja itu perlu fikiran yang matang dan kajian yang mendalam”kancil skeptis

“Jika tidak di coba kepan akan tau?” aku  menyela.

“ya itukan fikiranmu tho can. Tak semua mampu melakukannya.”kancil menyanggah.

“lah ya silakan di coba baru kita tau kemampuan mereka.”aku menyanggah.

“ya sudah silakan coba, aku mau coba makan dulu”kancil mencoba menghentikan pembicaraan.

Ya itulah sekelumit permasalahan yang aku hadapi dalam aku menuntut ilmu. Prinsip keteguhan dan keberanian entah kemana itu semua. Apalagi sekarang cenderung melupakan yang esensial. Ya semoga saja perkumpulan para murid tak menjadi lembaga yang hedonis.

Ferrynela Purbo